
Cerita (Story)
Sebuah startup teknologi yang fokus pada pengembangan aplikasi AI mengajukan insentif R&D super deduction. Namun, DJP menolak klaim karena dokumentasi penelitian tidak lengkap, tidak ada laporan biaya laboratorium, dan bukti pembayaran vendor penelitian tidak memadai.
CEO startup khawatir karena insentif ini sangat penting untuk mendanai pengembangan produk baru. Tim internal bingung karena baru pertama kali menghadapi audit insentif pajak.
Tantangan (Challenge):
- Dokumen R&D tidak lengkap, bukti pembayaran vendor kurang memadai.
- Startup tidak memiliki pengalaman menangani audit insentif.
- Risiko kehilangan insentif dan denda atas laporan pajak sebelumnya.
Solusi yang Kami Berikan (Our Solution)
- Melakukan review lengkap semua proyek R&D dan biaya terkait.
- Menyusun laporan lengkap untuk setiap kegiatan penelitian, termasuk bukti pembayaran, kontrak, dan hasil penelitian.
- Mengajukan keberatan resmi ke DJP dengan dokumentasi lengkap.
- Memberikan pelatihan internal tentang pencatatan biaya R&D dan super deduction untuk masa depan.
Solution:
- Reviewed all R&D projects and associated costs.
- Prepared comprehensive reports for each research activity, including payment proofs, contracts, and research outputs.
- Filed formal objections with the tax office supported by complete documentation.
- Provided internal training on R&D cost recording and super deduction compliance for the future.
Hasil Nyata (Result)
- Keberatan diterima, insentif R&D disetujui.
- Startup menghemat pajak signifikan dan dapat melanjutkan proyek AI tanpa hambatan.
- Tim internal lebih siap menangani audit R&D di masa depan.
Result:
- Objection accepted; R&D incentives approved.
- Startup saved significant taxes and continued AI projects smoothly.
- Internal team became capable of handling future R&D audits.
Komentar Anda