Contact Whatsapp085210254902

Menimbang Baik Buruknya STUDENT LOAN Bagi Mahasiswa

Ditulis oleh Administrator pada Selasa, 13 Februari 2024 | Dilihat 1063kali
Menimbang Baik Buruknya STUDENT LOAN Bagi Mahasiswa

Topik mengenai pinjaman pendidikan, atau student loan, kembali menjadi perbincangan ketika beberapa mahasiswa memilih opsi pinjaman online (pinjol) sebagai salah satu cara untuk membiayai uang kuliah tunggal (UKT). Penggunaan skema pinjol ini mengundang beragam tanggapan, karena dinilai memberatkan mahasiswa dengan tingkat bunga yang tinggi dan berpotensi membuat mereka terjebak dalam utang yang membelenggu. Lalu, apa sebenarnya student loan, bagaimana perkembangannya di Indonesia, dan bagaimana cara memilih platform kredit pendidikan yang aman bagi mahasiswa? Simak artikel berikut ini

Apa itu "student loan"?
Pendidikan tinggi dianggap sebagai investasi masa depan yang berharga, tetapi membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Bagi beberapa mahasiswa, terutama yang berasal dari keluarga kurang mampu, membiayai kuliah menjadi tantangan tersendiri.

Untuk mengatasi hal ini, banyak mahasiswa yang mencari alternatif pembiayaan pendidikan, salah satunya adalah melalui pinjaman dana pendidikan atau student loan. Student loan merupakan pinjaman yang diberikan untuk membiayai pendidikan tinggi atau segala biaya terkait dengan perolehan gelar akademik.

Dalam praktiknya, student loan dimaksudkan untuk menutupi biaya kuliah, buku, peralatan, dan biaya hidup selama masa kuliah. Di Amerika Serikat (AS), sistem pendidikan biasanya menetapkan bahwa pembayaran pinjaman ditunda selama mahasiswa masih berkuliah, dan dalam beberapa kasus, ditunda lagi selama enam bulan setelah lulus untuk memberi mereka kesempatan mendapatkan pekerjaan.

Masa penundaan ini, yang disebut juga sebagai masa tenggang, dimaksudkan agar mahasiswa dapat mulai membayar cicilan pinjaman setelah mereka memiliki penghasilan, sehingga tidak memberatkan perekonomian rumah tangga mereka. Namun, sistem ini tidak selalu berjalan dengan lancar, karena tingginya jumlah tunggakan pembayaran kredit pendidikan ini telah menyebabkan beban ekonomi yang signifikan bagi AS.

Student loan dapat diperoleh baik dari pemerintah maupun dari sumber pinjaman swasta. Pinjaman pemerintah seringkali menawarkan bunga yang lebih rendah, dan beberapa bahkan menawarkan bunga bersubsidi. Di sisi lain, pinjaman dari sektor swasta umumnya mengikuti proses pemberian pinjaman yang lebih tradisional, dengan tingkat bunga yang cenderung lebih tinggi daripada pinjaman pemerintah.

Bagaimana perkembangan "student loan" di Indonesia?
Student loan di Indonesia telah mengalami perkembangan yang dinamis sejak pertama kali diperkenalkan oleh pemerintah pada tahun 1982. Pada masa itu, pemerintah memperkenalkan program Kredit Mahasiswa Indonesia (KMI) dengan tujuan untuk mendorong mahasiswa agar lulus lebih cepat dari perguruan tinggi negeri. KMI adalah pinjaman pendidikan yang disubsidi oleh pemerintah dan disalurkan melalui Bank Negara Indonesia (BNI) 1946.

Pada awalnya, KMI hanya diberikan kepada mahasiswa yang telah mencapai tahap akhir kuliah dan membutuhkan biaya untuk menyelesaikan tugas akhir atau skripsi. KMI bertujuan untuk membantu mahasiswa agar dapat fokus menyelesaikan studi mereka dalam waktu yang lebih singkat dengan memberikan bantuan finansial.

Kredit pendidikan ini muncul sebagai respons terhadap fenomena dimana mahasiswa lebih memilih untuk bekerja daripada menyelesaikan studinya, terutama pada periode penulisan skripsi, karena biaya kuliah yang minimal. KMI juga didanai dari laba yang tidak terduga akibat kenaikan harga minyak pada saat itu.

Namun, program KMI tidak berlangsung lama dan dihentikan pada tahun 1986 karena dianggap tidak efektif dan menimbulkan masalah dalam hal penagihan dan pengembalian pinjaman. Seiring dengan berkembangnya era digitalisasi dan meningkatnya jumlah perusahaan financial technology (fintech), Presiden Joko Widodo pada tahun 2018 mengusulkan agar perbankan menyediakan kredit pendidikan bagi mahasiswa, sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan akses dan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia.

Beberapa bank seperti Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri, dan Bank Tabungan Negara (BTN) merespons usulan ini dengan menyediakan kredit pendidikan dengan berbagai syarat dan ketentuan. Namun, usulan ini juga menimbulkan kekhawatiran dari Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi saat itu, M Nasir, yang khawatir bahwa student loan akan menimbulkan masalah gagal bayar dan berdampak negatif pada perekonomian Indonesia, seperti yang terjadi di AS.

Selain bank, ada juga startup dan fintech yang menawarkan student loan, salah satunya adalah DANAdidik. Startup ini menyediakan pinjaman dana untuk kuliah, pelatihan, dan sertifikasi, dengan bekerja sama dengan berbagai mitra pendidikan.

DANAdidik mengklaim bahwa mereka memberikan pinjaman dengan biaya dan suku bunga yang terjangkau, serta memberikan bimbingan dan mentoring kepada penerima pinjaman. Pada Maret 2022, DANAdidik telah mendanai penuh pendidikan sekitar 750 siswa di berbagai jenjang dan bidang.

Namun, saat ini DANAdidik tidak lagi menyalurkan dana dan juga tidak terdaftar di OJK, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang kelangsungan dan kredibilitas fintech ini. Salah satu opsi lainnya adalah Danacita, yang juga telah menjadi topik pembicaraan publik belakangan ini.

Danacita menyatakan bahwa mereka berperan sebagai salah satu solusi alternatif pembayaran biaya pendidikan, yang dilakukan melalui kesepakatan kerja sama dengan lembaga pendidikan, termasuk Institut Teknologi Bandung (ITB).

Direktur Utama Danacita Alfonsus Wibowo menjelaskan bahwa Danacita sebagai Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI) yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), memberikan dana pendidikan langsung kepada lembaga pendidikan, bukan ke rekening perorangan dari pelajar dan/atau wali. Hal ini dilakukan untuk menjamin penggunaan dana hanya untuk kebutuhan pendidikan.

“Danacita menerapkan praktik responsible lending dengan memastikan bahwa setiap pendanaan disesuaikan dengan kemampuan penerima dana, mengutamakan kesejahteraan keuangan penerima dana, yaitu pelajar dan/atau wali, dalam jangka panjang. Kami juga mengikuti pedoman perilaku dari Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) untuk LPBBTI,” jelas Alfonsus.

Bagaimana memilih "student loan" yang aman bagi mahasiswa?
Andrisyah Tauladan, Direktur Komunikasi Perusahaan AFPI, mengungkapkan bahwa istilah pinjol yang terkait dengan student loan dari fintech lending memberikan kesan buruk bagi pembiayaan pendidikan ini. Pasalnya, masyarakat Indonesia masih trauma terhadap pinjol yang sering kali menetapkan bunga dan denda tinggi, tenor yang tidak masuk akal, serta teror yang mengganggu.

Andrisyah juga menjelaskan bahwa platform fintech lending tidak memiliki akses ke data pribadi nasabah atau penerima dana. Mereka menggunakan metode inovatif yang telah disetujui oleh regulator untuk melakukan risk profiling dan mitigasi risiko.

Misalnya, Danacita selalu melakukan analisis dan verifikasi yang mendalam untuk menilai kemampuan penerima dana dalam melunasi pinjaman yang diberikan. Jika penerima dana masih berusia di bawah 21 tahun atau belum memiliki penghasilan yang cukup, mereka harus mengajukan pinjaman bersama orang tua atau wali.

Selain itu, seluruh biaya yang timbul dari setiap pengajuan biaya pendidikan dapat diakses dan dilihat secara transparan oleh calon penerima dana. Biaya yang diterapkan oleh Danacita berkisar 0,07 persen per hari, atau di bawah batas maksimum yang ditetapkan oleh OJK sebesar 0,1 persen per hari.

Berdasarkan informasi tersebut, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memilih platform dana pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan:

1. Pastikan penyedia dana pendidikan terdaftar di OJK dan memiliki reputasi serta track record yang baik.

2. Perhatikan semua informasi yang disampaikan oleh fintech lending, termasuk jumlah pinjaman, bunga, biaya, tenor, syarat, dan ketentuannya secara detail.

3. Sesuaikan jumlah pinjaman dengan dana yang tersedia dan kemampuan untuk membayar cicilan. Pertimbangkan juga risiko gagal bayar, denda, atau penipuan.

4. Bandingkan beberapa pilihan fintech dana pendidikan yang ada di pasaran, dan pilih yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan.

5. Lakukan komunikasi yang baik dengan penyedia dana pendidikan, dan minta bantuan jika mengalami kesulitan atau masalah dalam proses pengajuan atau pembayaran pinjaman.

Jangan ragu untuk bertanya atau memberikan masukan agar mendapatkan pelayanan yang optimal.

Untuk konten edukasi perpajakan lainnya kalian bisa kunjungi link dibawah ini
https://youtube.com/@setianingrahayu2523?si=6zkwXhPGbEBC8tVU

 

Share this:

Komentar Anda

Jadilah yang pertama dalam memberi komentar pada berita / artikel ini
Silahkan Login atau Daftar untuk mengirim komentar
Disclaimer

Member Menu

Tentang Kami

Director of  Rahayu & Partner  (A brand of CV. Rahayu Damanik Consulting, Indonesia) Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Welcome to  Rahayu & Partner , the ... Lihat selengkapnya
  • Alamat Kami:
    Cibinong
  • 085210254902 (Telkomsel ) 087874236215 (XL)
  • konsultanpajakrahayu1@gmail.com
Developed by Naevaweb.com