UNDANG-UNDANG HARMONISASI PERATURAN PERPAJAKAN
MEMBANGUN SISTEM PERPAJAKAN YANG ADIL, SEHAT, EFEKTIF, DAN AKUNTABEL
Jakarta, Oktober 2021
KEMENTERIAN KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
1. URGENSI REFORMASI STRUKTURAL DAN REFORMASI FISKAL
PENCAPAIAN TARGET INDONESIA MAJU 2045 MEMERLUKAN PENGUATAN REFORMASI STRUKTURAL
Reformasi structural diperlukan untuk penguatan fondasi ekonomi dengan memanfaatkan factor demografi
PROSPEK
DEMOGRAFI
309 Juta penduduk
52% Umur produktif
75% Hidup di perkotaan
80% Berpenghasilan menengah
ECONOMY
•Terbesar ke-4 di dunia
•Pendapatan per kapita: US$29,300
•Struktur perekonomian yang lebih produktif
•Sektor jasa yang maju
INDONESIA
2045
Bercita-cita menjadi negara High-Income
Indonesia as one of the world’s economic centreof gravity -OECD, 2018
Indonesia is well positioned to pursue its further transformation toward an even more prosperous and inclusive society by taking advantage of several beneficial trends, including its young and expanding labor force, the rapid growth of the digital economy, and the growing role of Asia in the global economy -IMF, 2017
FAKTOR DEMOGRAFI MENJADI PELUANG PEMBANGUNAN
Pertumbuhan kelas menengah menjadi peluang kenaikan penerimaan Negara dimasa depan
Share jumlah penduduk kelas menengah terus meningkat (%)
Dengan melakukan reformasi perpajakan yang tepat, penerimaan Negara akan meningkat signifikan seiring dengan trend emografi dan perubahan sosial-ekonomi penduduk
22,5%
Share Kelas Menengah pada 2018
Meningkat 15,5 poin persentase terhadap total populasi Dari tahun 2002
Konsumsi penduduk kelas menengah tumbuh tinggi (RpT)
Pertumbuhan Kelas Menengah menjadi sumber peningkatan Penerimaan Pajak terutama dari pajak konsumsi (PPN) dan PPh OP
DI MASA BONUS DMOGRAFI MENJADI MOMENTUM REFORMASI UNTUK PENGUATAN
FONDASI DAN DAYA SAING
dibutuhkan reformasi structural yang didukung dengan reformasi fiscal
Sumber Daya Manusia (Human Capital)
Deregulasi
Penyederhanaan Birokrasi
Transformasi Ekonomi
Pembangunan Infrastruktur (Physical capital)
REFORMASI FISKAL Reformasi perpajakan, peningkatan kualitas belanja (spending better) & pembiayaan inovatif
Meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, dan perlinsos yang efektif untuk mendorong kualitas
Melanjutkan akselerasi pembangunan infrastruktur melalui infrastruktur digital dan efisiensi logistic, serta konektivitas
Reformasi Sektor Keuangan
Reformasi Sektor Riil Omnibus Law Cipta Kerja
STRATEGI KEBIJAKAN FISKAL YANG EFEKTIF
APBN sehat untuk menstimulasi perekonomian dan mewujudkan kesejahteraan
Welfare
MENDORONG SISTEM PERPAJAKAN ADIL, SEHAT, EFEKTIF, DAN AKUNTABEL
Sistem Perpajakan
Netral : Pajak tidak menciptakan distorsi yang berlebihan dalam perekonomian
Fleksibilitas : Mampu berdaptasi dengan perubahan struktur, teknologi dan aktivitas dunia usaha
Efektif dan Adil : Sistem perpajakan harus efekstif sebagai instrument kebijakan dan mampu menciptakan keadilan
Kepastian dan Kesederhanaan : Administrasi perpajakan yang mudah, simple dan menjamin kepastian hukum
Stabilitas : Penerimaan perpajakan harus memadai, terjaga, dan terus berkelanjutan
Efisiensi : Biaya untuk patuh pajak (compliance cost) dan memungut pajak seminimal mungkin
URGENSI REFORMASI PERPAJAKAN
Basis Pajak yang Kuat dan Makin Merata
vKonsumsi tumbuh
vPendapatan Per Kapita Masyarakat semakin tinggi
APBN yang Sehat danBerkelanjutan
vPenerimaan Negara memadai
vRisiko APBN rendah dan rasio utang terjaga
Pertumbuhan Ekonomi yang Tinggi
vMendorong investasi dan pencipataan lapangan kerja
vMendorong kemudahan berusaha
MENUJU PAJAK YANG ADIL, SEHAT, EFEKTIF, DANAKUNTABEL
REFORMASI PAJAK
Reformasi Kebijakan
Reformasi Administrasi
REFORMASI PERPAJAKAN MEMPERKUAT FUNGSI APBN UNTUK MEWUJUDKAN KESEJAHTERAAN
APBN sebagai instrument untuk mewujudkan
Masyarakat adil dan makmur
FUNGSI ALOKASI Public Goods
FUNGSI DISTRIBUSI Income Redistribution
FUNGSI STABILISASI Economic Stability &Growth
ANGGARAN PENDIDIKAN DALAM APBN 2020
Dukungan Pemerintah untuk Pendidikan yang Bermutu dan Penerimaan Pajak dari Sektor Pendidikan
REALISASI APBN 2020 BIDANG PENDIDIKAN
PENERIMAAN PERPAJAKAN: Rp2,95T
Perpajakan Rp2,95T (-11,14%,yoy) 2018: Rp2,88T, 2019: Rp3,32T
Tax Expenditure sektor Pendidikan Rp12,54T (perkiraan sangat sementa rath 2020+PEN)
BELANJA NEGARA: Rp455,66T (2021:Rp483,60T)
Belanja Pem.Pusat Rp174,25T (12,30%,yoy) 2018:Rp142,89T, 2019:Rp155,16T, 2021:Rp184,54T
TKDD Rp281,41T (-9,17%,yoy) 2018:Rp280,62T, 2019:Rp309,83T, 2021:Rp299,06T
PEMBIAYAAN: Rp18,0T (2021:RP66,4T)
Pembiayaan Rp18,0T (268,9%,yoy) 2018:Rp15,0T, 2019:Rp6,0 T, 2021: Rp66,4T
ANGGARAN KESEHATAN DALAM APBN 2020
Dukungan Pemerintah untuk Program Kesehatan termasuk Penanganan COVID-19 dan Penerimaan Pajak dari Sektor Kesehatan
REALISASI APBN 2020 BIDANG KESEHATAN
PENERIMAAN PERPAJAKAN Rp27,15T
Perpajakan Rp27,15T (-1,3%,yoy) 2018:Rp25,58T, 2019:Rp27,51T
BELANJA NEGARA Rp193,4T (2021:Rp290,0T)
Belanja Pem.Pusat Rp150,13T (74,4%,yoy) 2018:Rp82,0T, 2019:Rp84,0T, 2021:Rp213,8T
TKDD Rp46,91T (58,5%,yoy) 2018:Rp27,0 T, 2019:Rp29,6T, 2021:Rp76,2 T
PEN Kesehatan Rp63,51T 2021:Rp172,8T**
ANGGARAN BIDANG PERTANIAN DALAM APBN 2020
Dukungan Pemerintah untuk Peningkatan Produktivitas Komoditi Pangandan Penerimaan Pajak dari Sektor Pertanian
REALISASI APBN 2020 BIDANG PERTANIAN
PENERIMAAN PERPAJAKAN: Rp13,5T
Perpajakan Rp13,5T (-22,4%,yoy) 2018:Rp19,9T, 2019:Rp17,4 T
Tax Expenditure sektor Pertanian Rp20,7T (angka sangat sementara)
BELANJA NEGARA:Rp114,36T(2021:Rp121,59T)
Belanja Pem.Pusat Rp111.86T (14,00%,yoy) 2018:Rp92,75T, 2019:Rp98,13T, 2021:Rp116,09T
TKDD Rp2,50T (-52,2%,yoy) 2018:Rp6,14T, 2019:Rp5,23T, 2021:Rp5,50T
DUKUNGAN APBN UNTUK UMKM
|
No |
Jenis Dukungan Fiskal |
2019 |
2020 |
2021 |
|
1 |
Belanja K/L |
4,2 |
32,4 |
20,6 |
|
-Bantuan Produktif |
- |
28,65 |
15,36 |
|
|
-Alokasi Dukungan Perdagangan, Pengembangan Usaha, Koperasi dan UKM |
4,23 |
40,1 |
4,06 |
|
|
-Bantuan PKL dan Warung |
1,20 |
|||
|
2 |
Subsidi |
18,2 |
40,1 |
60,0 |
|
-Subsidi Bunga KUR dan Non KUR |
10,6 |
26,4 |
42,2 |
|
|
-IJP KUR |
0,0 |
0,2 |
0,2 |
|
|
-IJP UMKM |
- |
1,1 |
3,8 |
|
|
-PPh Final UMKM DTP |
- |
0,7 |
1,4 |
|
|
-PPN DTP sewa outlet |
- |
- |
1,2 |
|
|
-Diskon listrik |
- |
0,2 |
0,2 |
|
|
-Pembebasan Rekmin |
- |
1,7 |
2, 3 |
|
|
-Subsidi BBM |
0,2 |
0,1 |
0,1 |
|
|
-Subsidi LPG |
0,3 |
0,2 |
0,3 |
|
|
-Subsidi Listrik |
7,0 |
9,6 |
8,5 |
|
|
3 |
TKDD |
0,7 |
0,3 |
0,9 |
|
4 |
Pembiayaan (untuk UMKM) |
4,0 |
84,8 |
35,8 |
|
-Penempatan Dana* |
- |
66,8 |
30, 3 |
|
|
-Penjaminan Loss Limit UMKM |
- |
1,0 |
1,0 |
|
|
-Melalui PMN kepada BUMN |
- |
8,8 |
- |
|
|
-Melalui PMN kepada Lembaga/Badan Lainnya |
1,0 |
6,0 |
2,5 |
|
|
-Melalui BLU |
3,0 |
2,3 |
2,0 |
|
|
Jumlah |
27,1 |
157,7 |
117,3 |
* Penempatan dana untuk UMKM dan Korporasi, porsi penempatan dana untuk UMKM sekitar 57,31%
2. SUBSTANSI REFORMASI PERPAJAKAN (RUU HPP)
RUU HARMONISASI PERATURAN PERPAJAKAN
1. Asas
2. Tujuan
3. Muatan Isi dan Pemberlakuan
1. MATERI PAJAK PENGHASILAN
Perubahan tariff dan bracket Pajak Penghasilan orang pribadi, agar lebih mencerminkan keadilan.
|
Lapisan Tarif |
UU PPh Rentang Penghasilan |
UU PPh Tarif |
RUU HPP Rentang Penghasilan |
RUU HPP Tarif |
||
|
I |
0 -Rp50juta |
5% |
0-Rp60juta |
5% |
||
|
II |
>Rp 50 -250 juta |
15% |
>Rp60-250juta |
15% |
||
|
III |
>Rp 250-500 juta |
25% |
>Rp250-500juta |
25% |
||
|
IV |
>Rp500 juta |
30% |
>Rp500juta-5miliar |
30% |
||
|
V |
|
35% |
Penghitungan pajak penghasilan orang pribadi diterapkan atas penghasilan yang jumlahnya melebihi batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).
Dalam RUU HPP, besaran PTKP tidak berubah yaitu bagi orang pribadi lajang sebesar Rp4,5juta perbulan atau Rp54Juta pertahun. Tambahan sebesar Rp4,5juta diberikan untuk Wajib Pajak yang kawin dan masih ditambah Rp4,5juta untuk setiap tanggungan maksimal 3orang.
Ilustrasi Penghitungan Pajak Penghasilan Orang Pribadi
Asumsi penghitungan PPh untuk status WPO Plajang (TK/0)
|
Penghasilan/ Bulan |
5 Juta |
9 Juta |
10 Juta |
15 Juta |
|
Penghasilan/ Tahun |
60 Juta |
108 Juta |
120 Juta |
180 Juta |
|
PTKP (TK/0) |
54 Juta |
54 Juta |
54 Juta |
54 Juta |
|
Ph. Kena Pajak (PKP) |
6 Juta |
54 Juta |
66 Juta |
126 Juta |
|
Perhitungan PPh Terutang |
UU PPh |
RUU HPP |
UU PPh |
RUU HPP |
UU PPh |
RUU HPP |
UU PPh |
RUU HPP |
|
5% x 6 Juta = 300 ribu |
5% x 6 Juta = 300 ribu |
5% x 50 Juta = 2,5 Juta |
5% x 54 Juta = 2,7 Juta |
5% x 50 Juta = 2,5 Juta |
5% x 60 Juta = 3 Juta |
5% x 50 Juta = 2,5 Juta |
5% x 60 Juta = 3 Juta |
|
|
-- |
-- |
15% x 6 Juta = 900 ribu |
-- |
15% x 16 Juta = 2,4 Juta |
15% x 6 Juta = 900 ribu |
15% x 76 Juta = 11,4 Juta |
15% x 66 Juta = 9,9 Juta |
|
|
Total PPh Terutang |
300 ribu |
300 ribu |
3,4 Juta |
2,7 Juta |
4,9 Juta |
3,9 Juta |
13,9 Juta |
12,9 Juta |
Pemberian natura kepada pegawai dapat dibiayakan oleh pemberi kerja dan merupakan penghasilan bagi pegawai. Natura tertentu bukan merupakan penghasilan bagi penerima:
Bagi orang pribadi pengusaha yang menghitung PPh dengan tariff final 0,5% (PP23/2018) dan memiliki peredaran bruto sampai Rp500juta setahun tidak dikenai PPh.
Ilustrasi penghitungan pajak Tuan A pengusaha toko kelontong pada Tahun Pajak 2022:
|
No |
Bulan |
PeredaranUsaha (juta Rp) |
PeredaranUsaha Kumulatif (juta Rp) |
Peredaran Bruto Tidak Kena Pajak (juta Rp) |
PeredaranUsaha KenaPajak(juta Rp) |
PPhfinal terutangSetelahRUU HPP (Rp) |
PPh final terutang Sebelum RUU HPP (Rp) |
|
1 |
Januari |
100 |
100 |
0 |
0 |
500 |
|
|
2 |
Februari |
100 |
200 |
0 |
0 |
500 |
|
|
3 |
Maret |
100 |
300 |
0 |
0 |
500 |
|
|
4 |
April |
100 |
400 |
0 |
0 |
500 |
|
|
5 |
Mei |
100 |
500 |
0 |
0 |
500 |
|
|
6 |
Juni |
100 |
600 |
500 |
100 |
500 |
500 |
|
7 |
Juli |
100 |
700 |
100 |
500 |
500 |
|
|
8 |
Agustus |
100 |
800 |
100 |
500 |
500 |
|
|
9 |
September |
100 |
900 |
100 |
500 |
500 |
|
|
10 |
Oktober |
100 |
1000 |
100 |
500 |
500 |
|
|
11 |
November |
100 |
1100 |
100 |
500 |
500 |
|
|
12 |
Desember |
100 |
1200 |
100 |
500 |
500 |
|
|
Jumlah |
1200 |
700 |
3500000 |
6000000 |
Dengan berlakunya RUU HPP maka beban pajak yang harus dibayar Tuan A menjadi berkurang Rp2,5 juta
Tarif PPh Badan ditetapkan tetap menjadi 22%, yang berlaku untuk tahun pajak 2022 dan seterusnya.
Tarif PPh Badan
|
TahunPajak |
Tarif UU PPh |
Tarif RUU HPP |
|
Tahun2020 -2021 |
22% |
|
|
Tahun2022 dst. |
20% |
22% |
Perbandingan rata-rata Tarif PPh Badan
|
Keterangan |
2017 |
2018 |
2019 |
2020 |
2021 |
|
Rata-Rata OECD (%) |
23,95 |
23,53 |
23,12 |
22,88 |
22,81 |
|
Rata-Rata Amerika (%) |
28,29 |
28,11 |
27,36 |
27,33 |
27,16 |
|
Rata-Rata G-20 |
25,92 |
25,29 |
24,90 |
24,60 |
24,17 |
|
Rata-Rata ASEAN |
22,67 |
22,67 |
22,67 |
22,17 |
22,17 |
Untuk menciptakan APBN yang adil dan sehat perlu mengoptimalkan penerimaan Negara dengan tetap menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Kebijakan batas tidak kena pajak dan tariff telah dilakukan penyesuaian dalam RUU HPP sesuai dengan kondisi saat ini. Terhadap pelaku usaha UMKM berbentuk badan dalam negeri tetap diberikan insentif penurunan tariff sebesar 50% sebagaiman adiatur dalam Ps31E. Bagi WP orang pribadi dengan peredaran bruto tertentu, diberikan pengecualian pengenaan pajak terhadap peredaran bruto sampai dengan Rp500juta. Oleh karena itu sesuai dengan salah satu tujuan RUU HPP untuk mengoptimalkan penerimaan Negara dengan mempertimbangkan asas keadilan, Pemerintah perlu mempertahankan tariff PPh badan mulai Tahun Pajak 2022 sebesar 22%.
2. MATERI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI
1. Pengecualian objek PPN dan fasilitas PPN
2. Tarif PPN serta Kemudahan & Kesederhanaan PPN
|
|
||||||||||
|
|
|
|
||||||||
|
|
Untuk kemudahan dalam pemungutan PPN, atas jenis barang/jasa tertentu atau sector usaha tertentu diterapkan tariff PPN ‘final’ misalnya 1%, 2% atau 3% dari peredaran usaha, yang diatur dengan PMK.
Untuk keadilan dan kepastian hukum, dilakukan penurunan sanksi pada saat pemeriksaan dan sanksi dalam upaya hukum. Hal ini juga sejalan dengan semangat pengaturan dalam Undang-Undang Cipta Kerja.
|
Uraian |
UU KUP |
RUU HPP |
|
PPh kurang dibayar |
50% |
Bunga perbulan sebesar suku bunga acuan + upliftfactor 20% (max.24bulan) |
|
PPh kurang dipotong |
100% |
Bunga perbulan sebesar suku bunga acuan + upliftfactor 20% (max.24bulan) |
|
PPh dipotong tetapi tidak disetor |
100% |
75% |
|
PPN & PPnBM kurang dibayar |
100% |
75% |
|
Uraian |
UU KUP |
RUU HPP |
|
Keberatan |
50% |
30% |
|
Banding |
100% |
60% |
|
PeninjauanKembali |
100% |
60% |
Untuk keadilan dan kepastian hukum, kuasa Wajib Pajak dapat dilakukan oleh siapapun, sepanjang memenuhi persyaratan kompetensi menguasai bidang perpajakan. Pengecualian syarat diberikan jika kuasa yang ditunjuk merupakan suami, istri, atau keluarga sedarah/semenda 2(dua) derajat.
|
Perbuatan |
UU KUP |
RUU HPP |
|
Pidana pajak kealpaan |
Membayar pokok pajak+ sanksi 3x pajak kurang dibayar |
Membayar pokok pajak+ sanksi 1x pajak kurang dibayar |
|
Pidana pajak kesengajaan |
Membayar pokok pajak+ sanksi 3x pajak kurang dibayar |
Membayar pokok pajak+ sanksi 3x pajak kurang dibayar |
|
Pidana pajak pembuatan faktur pajak/bukti potong PPh fiktif |
Membayar pokok pajak+ sanksi 3x pajak kurang dibayar |
Membayar pokok pajak+ sanksi 4x pajak kurang dibayar |
Pemerintah dapat menetapkan pihak lain (misalnya: penyedia sarana transaksi elektronik) sebagai Pemotong/Pemungut Pajak atas transaksi yang melibatkan pihak lain tersebut. Hal ini sebagai sebagai solusi bagi perkembangan transaksi ekonomi yang semakin dinamis, termasuk yang melibatkan penyedia sarana transaks ielektronik, sehingga pemungutan pajak dapat dilakukan secara efisien, sederhana, dan efektif
Untuk mewujudkan kemanfaatan dan wujud peran aktif Indonesia dalam kerja sama perpajakan global, dapat dilakukan bantuan penagihan aktif kepada Negara mitra maupun permintaan bantuan penagihan pajak kepada Negara mitra yang dilakukan secara resiprokal.
Untuk memberikan keadilan dan kepastian hukum, diatur pihak-pihak yang dapat mengajukan MAP dan pengajuan MAP dapat dilakukan bersamaan dengan Keberatan atau Banding. Pokok pengaturan antara lain:
4. PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA
Voluntary Disclosure Program(VDP)
|
Keterangan |
Kebijakan I |
Kebijakan II |
|
Subyek |
WPOP dan Badan peserta TA |
WP OP |
|
Basis Aset |
Aset per 31 Desember 2015 yang belum diungkap pada saat mengikuti TA |
Aset perolehan 2016-2020 yang belum dilaporkan dalam SPT Tahunan 2020 |
|
Tarif PPh Final |
•11%untukdeklarasiLN •8%untukasetLN repatriasidanasetDN •6%untukasetLN repatriasidanasetDN, yang diinvestasikan dalam SBN/hilirisasi/renewable energy |
•18%untukdeklarasiLN •14%untukasetLN repatriasidanasetDN •12%untukasetLN repatriasidanasetDN, yang diinvestasikan dalam SBN/hilirisasi/renewable energy |
Ilustrasi
KEBIJAKAN I
Tuan A telah mengikuti program Pengampunan Pajak (TaxAmnesty/TA) 2015, tetapi pada saat TA masih terdapat sebuah rumah didalam negeri yang tidak diungkap dengan nilai per 31 Desember 2015 sebesar Rp2Miliar. Untuk menghindari pengenaan sanksi Undang-Undang TA, Tuan A mengikuti Program Pengungkapan Sukarela.
Tuan A berniat hanya mendeklarasikan aset dalam negeri tersebut tanpa menginvestasikan pada SBN/hilirisasi/renewableenergy, sehingga Tuan A membayar PPh Final dengan tariff 8% sebesar Rp160juta (8%xRp2Miliar)
KEBIJAKAN II
Tuan B memiliki 2 buah rumah dan sebuah rekening diIndonesia yang diperoleh selama tahun 2016 sampai dengan tahun 2020. 2 buah rumah telah dilaporkan dalam SPT Tahunan 2020 senilai Rp3Miliar, namun 1 rekening senilai Rp1Miliar belum dicantumkan dalam SPT Tahunan Tahun 2020.
Tuan B akan mengikuti Program Pengungkapan Sukarela dan berniat menginvestasikan uangnya pada SBN, sehingga Tuan B membayar PPh Final dengan tariff 12% sebesar Rp120juta (12%xRp1Miliar).
5. PAJAK KARBON
1. Latar Belakang
2. Pengaturan dalam RUU HPP
PETA JALAN PAJAK KARBON DAN
SKEMA IMPLEMENTASI PAJAK KARBON - PERDAGANGAN KARBON
Peta Jalan Pajak Karbon
2021:
2022:
2025:
Skema Pajak Karbon – Perdagangan Karbon
Cap and Trade
Entitas yang mengemisi lebih dari cap diharuskan membeli ijin emisi (SIE) dari entitas yang mengemisi di bawah cap atau membeli sertifikat penurunan emisi (SPE/offsetkarbon)
Cap and tax
Dalam hal entitas tersebut tidak dapat membeli ijin emisi (SIE) atau sertifikat penurunan emisi (SPE) atas emisi di atas cap seluruhnya maka sisa emisi akan dikenakan pajak karbon
6. MATERI CUKAI
6. Perubahan UU Cukai
|
Pemulihan Kerugian Pendapatan Negara |
UU Cukai |
RUU HPP |
|
Saat Penelitian |
Belum diatur |
Membayar sanksi denda sebesar 3x nilai Cukai yang seharusnya dibayar |
|
Saat Penyidikan |
Membayar pokok Cukai+ sanksi 4x Cukai kurang dibayar |
Membayar sanksi denda sebesar 4x nilai Cukai yang seharusnya dibayar |
PENERIMAAN PERPAJAKAN MULAI MENINGKAT DENGAN PENGUATAN REFORM PERPAJAKAN.
RUU HARMONISASI PERATURAN PERPAJAKAN (HPP) MEMPERKUAT REFORM PERPAJAKAN
Analisis Makro
Penerimaan Perpajakan dan Tax ratio 2021-2025
TERIMA KASIH
REFORMASI STRUKTURAL DAN FISKAL UNTUK PENGUATAN FONDASI EKONOMI DAN MENJAGA KEBERLANJUTAN FISKAL JANGKA MENENGAH-PANJANG
Pertumbuhan ekonomi (%)
Rasio Perpajakan (% PDB)
Defisit (%)
Rasio Utang (% PDB)
KERANGKA PIKIR REFORMASI PERPAJAKAN
Filosofi Reformasi Perpajakan
ADIL
Menciptakan keadilanan tarsektor usaha dan kelompok penghasilan dan kepastian hokum
SEHAT
Basis pajak kuat dan berkelanjutan mendukung APBN untuk pembangunan
EFEKTIF
Sederhana, pengawasan kuat dan biaya adminsitrasi minimal
Substansi Reformasi Perpajakan
KEBERPIHAKAN PERPAJAKAN UNTUK PEMBANGUNAN
PENDIDIKAN:
PIP, Bidikmisi/KIP Kuliah, Beasiswa LPDP, BOS
KESEHATAN:
PBI JKN, Stunting, Penguatan Nakses, Sarprasdan Alkes, Pembangunan Puskesmas, Vaksinasi
MASYARAKAT MISKIN :
PKH, Kartu Sembako, Kartu PraKerja, BLT DD, Pembiayaan Perumahan MBR
UMKM:
Subsidi KUR, BPUM, akses pembiayaan KUMKM, Usaha Mikro, Penjaminan UMKM
DUKUNGAN PEMERINTAH UNTUK MASYARAKAT MISKIN DAN UMKM
Penguatan peran perpajakan untuk redistribusi pendapatan
UU HPP
Nilai bracket PPh OP terbawah dinaikkan (50 -> 60jt)
PTKP untuk UMKM (500jt)
Diskon 50% utk omzet 4.8M tetap ada
Belanja Perpajakan 2020
59,9T UMKM
APBN 2022
429,9T* PERLINSOS
PEN 2021 (Per 1 Oktober2021)
PERLINDUNGAN SOSIAL
Komentar Anda