
Indonesia mencatat deflasi selama lima bulan berturut-turut antara Mei dan September 2024. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa deflasi pada bulan September 2024 mencapai 0,12% secara bulanan (mtm), meningkat dari deflasi 0,03% pada bulan sebelumnya. Amalia Adininggar Widyasanti, Pelaksana Tugas Kepala BPS, menyatakan bahwa deflasi bulan September 2024 lebih dalam dibandingkan Agustus 2024. “Deflasi bulan September 2024 menunjukkan kedalaman yang lebih dibandingkan dengan Agustus dan merupakan deflasi kelima sepanjang tahun ini secara bulanan,” kata Amalia dalam konferensi pers pada hari Selasa (1/10). BPS mencatat bahwa kelompok pengeluaran yang memberikan kontribusi terbesar terhadap deflasi bulanan adalah makanan, minuman, dan tembakau, yang mengalami deflasi sebesar 0,59% dan berkontribusi sebesar 0,17% terhadap deflasi. Selain itu, indeks harga konsumen (IHK) mengalami penurunan dari 106,06 pada Agustus 2024 menjadi 105,93 pada September 2024. Inflasi tahunan tercatat sebesar 1,84%, turun dari 2,12% pada bulan sebelumnya.
Selama periode Mei hingga Agustus 2024, Indonesia juga mengalami deflasi, dengan masing-masing laju deflasi sebesar 0,03%, 0,18%, 0,08%, dan 0,03%.
**Waspadai Deflasi Beruntun**
Sebelumnya, ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, memproyeksikan kemungkinan deflasi kembali terjadi pada September 2024. Menurutnya, tren deflasi masih cukup signifikan akibat beberapa faktor. “Indikasinya terlihat dari belum pulihnya aktivitas ekonomi, berkurangnya tabungan masyarakat, meningkatnya kredit macet pada sektor kendaraan, serta tingginya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK),” ungkap Wijayanto kepada Katadata.co.id pada Senin (30/9). Dia menekankan pentingnya memperhatikan dampak dari deflasi beruntun selama lima bulan terakhir. Menurutnya, kebijakan yang tidak tepat dapat memperparah risiko deindustrialisasi. Dia menyebutkan bahwa efek dari deflasi beruntun ini termasuk peningkatan angka pengangguran, penurunan daya beli masyarakat, turunnya penerimaan pajak, serta munculnya rasa pesimis di kalangan konsumen dan produsen. “Kita sedang memasuki fase deflasi yang berkepanjangan, dengan kapasitas intervensi pemerintah yang semakin terbatas karena kondisi fiskal yang lemah," jelas Wijayanto. Ia menambahkan bahwa jika deflasi terus berlanjut, Indonesia akan terperangkap dalam lingkaran setan yang dapat mengarah pada kemunduran ekonomi, dan sulit untuk keluar dari kondisi tersebut.
Komentar Anda