Contact Whatsapp085210254902

PNBP sebesar Rp. 383, 8 Triliun selama bulan agutus 2024 menjadi rendah 4,8%

Ditulis oleh Administrator pada Rabu, 25 September 2024 | Dilihat 668kali
PNBP sebesar Rp. 383, 8 Triliun selama bulan agutus 2024 menjadi rendah 4,8%

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan bahwa penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mengalami penurunan sebesar 4,8 persen secara year on year (yoy) menjadi Rp 383,8 triliun per Agustus 2024, dibandingkan dengan Rp 403 triliun pada periode yang sama tahun 2023. Wakil Menteri Keuangan II, Thomas Djiwandono, menjelaskan bahwa realisasi PNBP ini mencapai 78 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024. “Faktor utama yang menekan capaian PNBP adalah penurunan harga minyak mentah Indonesia, berkurangnya lifting minyak bumi, serta moderasi harga batu bara acuan,” ungkap Thomas dalam konferensi pers APBN KiTA pada Senin (23/9).

Thomas, yang akrab disapa Tommy, menambahkan bahwa realisasi PNBP sebagian besar didorong oleh kinerja positif Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan pendapatan dari Badan Layanan Umum (BLU). Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa pendapatan kekayaan negara yang dipisahkan (KND) pada Agustus 2024 mencapai Rp 70,3 triliun, atau sekitar 81,9 persen dari target APBN 2024, yang mencatat pertumbuhan 7,4 persen yoy, terutama berkat setoran dividen BUMN di sektor perbankan yang meningkat.

Sejalan dengan peningkatan KND, PNBP dari BLU juga menunjukkan tren positif dengan kenaikan 18,8 persen menjadi Rp 64,2 triliun, yang mencapai sekitar 77 persen dari target APBN 2024. Kenaikan ini terutama berasal dari pendapatan jasa penyediaan barang dan jasa lainnya, layanan Rumah Sakit (RS), dan pengelolaan dana BLU. Namun, pendapatan BLU dari pengelolaan dana, khususnya dari pungutan ekspor sawit, mengalami pelambatan sebesar 14,2 persen yoy.

Sementara itu, realisasi PNBP lainnya hingga akhir Agustus 2024 mengalami kontraksi sebesar 10,4 persen yoy, menjadi Rp 97,9 triliun atau sekitar 85 persen dari target APBN 2024. Penurunan ini terutama disebabkan oleh berkurangnya pendapatan dari hasil tambang seiring dengan moderasi harga batu bara, serta penurunan pendapatan PNBP dari kementerian/lembaga (KL), terutama pendapatan tidak berulang dari Kejaksaan dan Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Lebih lanjut, setoran PNBP dari sumber daya alam (SDA) migas hingga Agustus 2024 mencapai Rp 73,1 triliun, atau 66,3 persen dari target APBN 2024, meskipun mengalami kontraksi sebesar 5,1 persen yoy akibat penurunan harga Indonesia Crude Price (ICP) dan berkurangnya lifting minyak bumi akibat keterlambatan onstream serta penyusutan produksi alami sumur migas. Di sisi lain, realisasi PNBP dari SDA non-migas mencapai Rp 78,4 triliun, atau sekitar 80,4 persen dari target APBN 2024, dengan kontraksi sebesar 19,5 persen yoy yang disebabkan oleh penurunan harga batu bara, sehingga royalti batu bara berkurang sebesar 29,2 persen.

Share this:

Komentar Anda

Jadilah yang pertama dalam memberi komentar pada berita / artikel ini
Silahkan Login atau Daftar untuk mengirim komentar
Disclaimer

Member Menu

Tentang Kami

Director of  Rahayu & Partner  (A brand of CV. Rahayu Damanik Consulting, Indonesia) Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Welcome to  Rahayu & Partner , the ... Lihat selengkapnya
  • Alamat Kami:
    Cibinong
  • 085210254902 (Telkomsel ) 087874236215 (XL)
  • konsultanpajakrahayu1@gmail.com
Developed by Naevaweb.com