
Harga batu bara yang terus merosot memicu pemerintah untuk memperkirakan penurunan penerimaan pajak tahun ini. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa harga batu bara saat ini berada di level US$ 137,3 per metrik ton, turun 28,8% dibandingkan tahun lalu, dan mengalami penurunan 4,7% dari awal tahun. "Dengan harga batu bara di US$ 137,3, terdapat kontraksi sebesar 28,8% year on year. Hal ini berdampak pada banyak wajib pajak yang mengalami penurunan dalam pembayaran pajak," ungkap Sri Mulyani dalam konferensi pers terkait APBN di kantornya, Jakarta, pada hari Senin (23/9/2024).
Kementerian Keuangan juga memperkirakan bahwa penerimaan pajak hingga akhir tahun tidak akan mencapai 100% dari target APBN 2024. Berdasarkan laporan outlook semester I-2024, penerimaan pajak diprediksi hanya akan mencapai Rp 1.921,9 triliun, yang setara dengan 96,6% dari target APBN 2024 sebesar Rp 1.988,9 triliun. Penurunan harga batu bara global sepanjang tahun ini disebabkan oleh permintaan yang berkurang dari beberapa negara konsumen, termasuk China.
Namun, pada minggu ini, harga batu bara kembali mengalami lonjakan signifikan. Kenaikan ini didorong oleh sikap dovish dari Federal Reserve (The Fed) yang memutuskan untuk menurunkan suku bunga di Amerika Serikat. Menurut data dari Refinitiv, harga kontrak batu bara acuan ICE Newcastle pada perdagangan Jumat (20/9/2024) melonjak 1,65% menjadi US$ 139 per ton. Dalam sepekan, harga batu bara mencatatkan kenaikan sebesar 3,27%.
Komentar Anda