
Para pemimpin Afrika sepakat usulkan pemberlakuan pajak karbon global. Pajak ini akan membuat negara-negara yang banyak mencemari lingkungan membayar lebih mahal. Ide ini muncul saat pembahasan dan menghasilkan kesepakatan bersama di KTT Iklim Afrika yang berlangsung selama tiga hari di Kenya.
Konferensi ini juga merupakan kesempatan pertama bagi benua Afrika untuk bersama-sama membahas cara mengatasi krisis iklim, baik tantangan maupun solusinya.
Deklarasi Nairobi adalah nama dari dokumen yang berisi ide atas kesepakatan tersebut. Dalam dokumen ini, mereka menyarankan agar ada harga karbon global yang berlaku untuk perdagangan bahan bakar fosil, pengiriman barang, dan penerbangan. Mereka juga menyarankan agar ada pajak global untuk setiap transaksi keuangan.
Nantinya, uang dari pajak ini akan digunakan untuk membantu negara-negara miskin di Afrika membangun sistem energi yang ramah lingkungan dan siap menghadapi perubahan iklim. Selain itu, deklarasi ini juga menargetkan peningkatan kapasitas energi terbarukan di Afrika hingga hampir enam kali lipat pada tahun 2030.
Target ini jauh lebih tinggi dari kapasitas energi terbarukan saat ini, yaitu 56GW. Selain itu, ada juga pendanaan dan investasi sebesar 26 miliar dollar AS untuk berbagai proyek yang berhubungan dengan iklim.
Salah satu isu penting lainnya dalam pembahasan iklim adalah bagaimana Bank Dunia dan bank pembangunan lainnya mendukung negara-negara dalam membiayai upaya seputar perubahan iklim. Para pemimpin Afrika juga mendukung perubahan sistem keuangan dunia, dengan mengatakan bahwa bank pembangunan harus memberikan pinjaman dengan bunga rendah kepada negara-negara miskin.
Di sisi lain, para pemimpin Afrika juga mendukung penghapusan subsidi bahan bakar fosil dan penghentian penggunaan batu bara, tetapi tidak menyerukan penghentian penggunaan minyak dan gas. Selanjutnya, Deklarasi Nairobi akan menjadi acuan bagi para pemimpin Afrika dalam bernegosiasi pada KTT iklim PBB COP28, yang akan diadakan di Uni Emirat Arab pada akhir tahun ini.
Komentar Anda