Contact Whatsapp085210254902

PER 26/PJ/2014

Ditulis oleh Administrator pada Minggu, 21 Desember 2014 | Dilihat 2428kali
PER 26/PJ/2014

sumber: Taxe Base

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
                    NOMOR PER - 26/PJ/2014

                 TENTANG

                     SISTEM PEMBAYARAN PAJAK SECARA ELEKTRONIK

             DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Menimbang : 

a.     bahwa uji coba penerapan sistem pembayaran pajak secara elektronik (billing system) telah diatur dalam 
    Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-47/PJ/2011 tentang Tata Cara Pelaksanaan Uji Coba 
    Penerapan Sistem Pembayaran Pajak secara Elektronik (Billing System) dalam Sistem Modul Penerimaan 
    Negara sebagaimana diubah dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-19/PJ/2012; 
b.     bahwa sebagai tindak lanjut dari pelaksanaan uji coba sebagaimana dimaksud pada huruf a, perlu 
    dilakukan penerapan di seluruh wilayah Indonesia dan penyempurnaan penatausahaan pembayaran 
    pajak secara elektronik dengan memanfaatkan sistem teknologi informasi; 
c.     bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, serta dalam 
    rangka melaksanakan Pasal 15, Pasal 16 ayat (3), Pasal 33 ayat (2) dan Pasal 37 ayat (5) Peraturan 
    Menteri Keuangan Nomor 32/PMK.05/2014, perlu menetapkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak tentang 
    Sistem Pembayaran Pajak Secara Elektronik; 

Mengingat : 

1.     Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran 
    Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia 
    Nomor 3262) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 
    Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara 
    Republik Indonesia Nomor 4999); 
2.     Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pelaksanaan Hak dan Pemenuhan 
    Kewajiban Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 162, Tambahan 
    Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5268); 
3.     Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha 
    yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu (Lembaran Negara 
    Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 106, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 
    5424); 
4.     Peraturan Menteri Keuangan Nomor 184/PMK.03/2007 tentang Penentuan Tanggal Jatuh Tempo 
    Pembayaran dan Penyetoran Pajak, Penentuan Tempat Pembayaran Pajak, Penentuan Tanggal Jatuh 
    Tempo Pembayaran dan Penyetoran Pajak, Penentuan Tempat Pembayaran Pajak, dan Tata Cara 
    Pembayaran, Penyetoran dan Pelaporan Pajak, serta Tata Cara Pengangsuran dan Penundaan 
    Pembayaran Pajak sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 
    80/PMK.03/2010; 
5.     Peraturan Menteri Keuangan Nomor 32/PMK.05/2014 tentang Sistem Penerimaan Negara Secara 
    Elektronik; 

                    MEMUTUSKAN :

Menetapkan : 

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK TENTANG SISTEM PEMBAYARAN PAJAK SECARA ELEKTRONIK. 


                        Pasal 1 

Dalam Peraturan Direktur Jenderal ini, yang dimaksud dengan: 
1.     Sistem pembayaran pajak secara elektronik adalah bagian dari sistem Penerimaan Negara secara 
    elektronik yang diadministrasikan oleh Biller Direktorat Jenderal Pajak dan menerapkan Billing System. 
2.     Billing System adalah metode pembayaran elektronik dengan menggunakan Kode Billing. 
3.     Biller adalah unit Eselon I Kementerian Keuangan yang diberi tugas dan kewenangan untuk mengelola 
    Sistem Billing dan menerbitkan Kode Billing. 
4.     Sistem Billing adalah sistem informasi yang dikelola oleh masing-masing Biller dalam rangka 
    pengadministrasian sistem Penerimaan Negara secara elektronik. 
5.     Kode Billing adalah kode identifikasi yang diterbitkan melalui Sistem Billing atas suatu jenis pembayaran 
    atau setoran yang akan dilakukan Wajib Pajak. 
6.     Aplikasi Billing Direktorat Jenderal Pajak yang selanjutnya disebut Aplikasi Billing DJP adalah bagian 
    dari Sistem Billing Direktorat Jenderal Pajak yang menyediakan antarmuka berupa aplikasi berbasis 
    web bagi Wajib Pajak untuk menerbitkan Kode Billing dan dapat diakses melalui jaringan internet. 
7.     Bank Persepsi dan Pos Persepsi yang selanjutnya disebut Bank/Pos Persepsi adalah penyedia layanan 
    penerimaan setoran penerimaan negara sebagai collecting agent dalam sistem penerimaan negara 
    menggunakan surat setoran elektronik. 
8.     Electronic Data Capture yang selanjutnya disingkat EDC adalah alat yang dipergunakan untuk transaksi 
    kartu debit/kredit yang terhubung secara online dengan sistem/ jaringan Bank Persepsi. 
9.     Nomor Transaksi Penerimaan Negara yang selanjutnya disingkat NTPN adalah nomor tanda bukti 
    pembayaran/penyetoran ke Kas Negara yang tertera pada Bukti Penerimaan Negara dan diterbitkan 
    oleh sistem settlement yang dikelola Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan. 
10.     Nomor Transaksi Bank yang selanjutnya disingkat NTB adalah nomor bukti transaksi penyetoran 
    penerimaan Negara yang diterbitkan oleh Bank Persepsi. 
11.     Nomor Transaksi Pos yang selanjutnya disingkat NTP adalah nomor bukti transaksi penyetoran 
    penerimaan Negara yang diterbitkan oleh Pos Persepsi. 
12.     Bukti Penerimaan Negara yang selanjutnya disingkat BPN adalah dokumen yang diterbitkan oleh Bank/
    Pos Persepsi atas transaksi penerimaan negara dengan teraan NTPN dan NTB/NTP sebagai sarana 
    administrasi lain yang kedudukannya disamakan dengan surat setoran. 
13.     Surat Setoran Pajak yang selanjutnya disingkat SSP adalah bukti pembayaran atau penyetoran pajak 
    yang telah dilakukan dengan menggunakan formulir atau telah dilakukan dengan cara lain ke Kas 
    Negara melalui tempat pembayaran yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan. 
14.     Surat Setoran Pajak Pajak Bumi dan Bangunan yang selanjutnya disingkat dengan SSP PBB adalah 
    surat setoran atas pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan dari Wajib Pajak ke Bank/Pos Persepsi. 
15.     Surat Pemberitahuan Pajak Terutang Pajak Bumi dan Bangunan yang selanjutnya disingkat SPPT PBB 
    adalah surat yang digunakan oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk memberitahukan besarnya PBB yang 
    terutang kepada Wajib Pajak. 
16.     Surat Ketetapan Pajak Pajak Bumi dan Bangunan yang selanjutnya disingkat SKP PBB adalah Surat 
    Ketetapan Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 
    tentang Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana telah diubah dengan Undang- Undang Nomor 12 
    Tahun 1994. 


                        Pasal 2 

(1)     Wajib Pajak dapat melakukan pembayaran/penyetoran pajak dengan sistem pembayaran pajak secara 
    elektronik. 
(2)     Pembayaran/penyetoran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi seluruh jenis pajak, 
    kecuali: 
    a.     pajak dalam rangka impor yang diadministrasikan pembayarannya oleh Biller Direktorat 
        Jenderal Bea dan Cukai; dan 
    b.     pajak yang tata cara pembayarannya diatur secara khusus. 
(3)     Pembayaran/penyetoran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pembayaran dalam mata 
    uang Rupiah dan Dollar Amerika Serikat. 
(4)     Pembayaran dalam mata uang Dollar Amerika Serikat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) hanya 
    dapat dilakukan untuk Pajak Penghasilan Pasal 25, Pajak Penghasilan Pasal 29 dan Pajak Penghasilan 
    yang bersifat Final yang dibayar sendiri oleh Wajib Pajak yang memperoleh izin untuk 
    menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika 
    Serikat. 
(5)     Transaksi pembayaran/penyetoran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui Bank/
    Pos Persepsi dengan menggunakan Kode Billing. 


                        Pasal 3 

(1)     Transaksi Pembayaran/penyetoran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (5) dapat dilakukan 
    melalui Teller Bank/Pos Persepsi, Anjungan Tunai Mandiri (ATM), Internet Banking dan EDC. 
(2)     Atas pembayaran/penyetoran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Wajib Pajak menerima BPN 
    sebagai bukti setoran. 
(3)     BPN sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterbitkan dalam bentuk: 
    a.     dokumen bukti pembayaran yang diterbitkan Bank/Pos Persepsi, untuk pembayaran/penyetoran 
        melalui Teller dengan Kode Billing; 
    b.     struk bukti transaksi, untuk pembayaran melalui ATM dan EDC; 
    c.     dokumen elektronik, untuk pembayaran/penyetoran melalui internet banking; dan 
    d.     teraan BPN pada SSP/SSP PBB, untuk pembayaran melalui Teller Bank/Pos Persepsi dengan 
        menggunakan SSP/SSP PBB. 
(4)     BPN sebagaimana dimaksud pada ayat (3) sekurang-kurangnya mencantumkan elemen-elemen 
    sebagai berikut: 
    a.     NTPN; 
    b.     NTB/NTP; 
    c.     Kode Billing; 
    d.     Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP); 
    e.     Nama Wajib Pajak; 
    f.     Alamat Wajib Pajak, kecuali untuk BPN yang diterbitkan melalui ATM dan EDC; 
    g.     Nomor Objek Pajak (NOP), dalam hal pembayaran pajak atas transaksi pengalihan hak atas 
        tanah dan/atau bangunan, kegiatan membangun sendiri dan Pajak Bumi dan Bangunan sektor 
        Perkebunan, Perhutanan dan Pertambangan, kecuali untuk BPN yang diterbitkan melalui ATM 
        dan EDC; 
    h.     Kode Akun Pajak; 
    i.     Kode Jenis Setoran; 
    j.     Masa Pajak; 
    k.     Tahun Pajak; 
    l.     Nomor ketetapan pajak, bila ada; 
    m.     Tanggal bayar; dan 
    n.     Jumlah nominal pembayaran. 
(5)     BPN sebagaimana dimaksud pada ayat (3) termasuk cetakan, salinan dan fotokopinya, kedudukannya 
    disamakan dengan SSP dan SSP PBB dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-
    undangan perpajakan. 
(6)     Dalam hal terdapat perbedaan antara data pembayaran yang tertera dalam BPN dengan data 
    pembayaran menurut sistem Penerimaan Negara secara elektronik, maka yang dianggap sah adalah 
    data sistem Penerimaan Negara secara elektronik. 


                        Pasal 4 

Wajib Pajak dapat memperoleh Kode Billing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (5) dengan cara: 
1.     membuat sendiri pada Aplikasi Billing DJP yang dapat diakses melalui laman Direktorat Jenderal Pajak 
    dan laman Kementerian Keuangan; 
2.     melalui Bank/Pos Persepsi atau pihak lain yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak; atau 
3.     diterbitkan secara jabatan oleh Direktorat Jenderal Pajak dalam hal terbit ketetapan pajak, Surat 
    Tagihan Pajak, SPPT PBB atau SKP PBB yang mengakibatkan kurang bayar. 


                        Pasal 5 

(1)     Wajib Pajak membuat sendiri Kode Billing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 angka 1 dengan 
    melakukan input data setoran pajak yang akan dibayarkan. 
(2)     Input data sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan atas nama dan NPWP sendiri, atau atas nama 
    dan NPWP Wajib Pajak lain sehubungan dengan kewajiban sebagai Wajib Pungut. 
(3)     Wajib Pajak dalam melakukan input data sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terlebih dahulu 
    melakukan log-in dengan memasukkan User ID dan PIN akun pengguna Aplikasi Billing DJP yang telah 
    aktif. 
(4)     Wajib Pajak dapat mendaftarkan diri untuk memperoleh User ID dan PIN secara online melalui menu 
    daftar baru Aplikasi Billing DJP dan mengaktifkan akun pengguna melalui konfirmasi e-mail. 
(5)     Dalam hal terdapat indikasi penyalahgunaan, Direktur Jenderal Pajak dapat melakukan penutupan 
    secara jabatan atas akun pengguna Aplikasi Billing DJP. 
(6)     Dalam hal terjadi pemindahan tempat terdaftar Wajib Pajak yang mengakibatkan perubahan NPWP, 
    Aplikasi Billing DJP akan menyesuaikan akun pengguna dengan NPWP baru. 


                        Pasal 6 

Wajib Pajak dapat memperoleh Kode Billing melalui Bank/Pos Persepsi atau pihak lain yang ditunjuk oleh 
Direktur Jenderal Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 angka 2 dengan cara: 
1.     mendatangi Teller Bank/Pos Persepsi dengan menyerahkan SSP/SSP PBB; atau 
2.     menggunakan layanan/produk/aplikasi/sistem yang telah terhubung dengan Sistem Billing Direktorat 
    Jenderal Pajak. 


                        Pasal 7 

(1)     Mekanisme pembayaran/penyetoran pajak melalui Teller Bank/Pos Persepsi dengan menggunakan SSP/
    SSP PBB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 angka 1 adalah sebagai berikut: 
    a.     Wajib Pajak menyerahkan SSP/SSP PBB dalam rangkap 4 (empat) yang telah diisi lengkap dan 
        ditandatangani kepada Teller Bank/Pos Persepsi, dengan menyertakan uang sejumlah nominal 
        yang disebutkan dalam SSP/SSP PBB. 
    b.     Teller Bank/Pos Persepsi merekam data pembayaran/setoran pajak untuk menerbitkan Kode 
        Billing. 
    c.     Teller Bank/Pos Persepsi mencetak bukti penerbitan Kode Billing dan menyerahkannya kepada 
        Wajib Pajak. 
    d.     Wajib Pajak memeriksa kesesuaian elemen data pada bukti penerbitan Kode Billing dengan isian 
        SSP/SSP PBB. 
    e.     Dalam hal elemen data yang tertera pada bukti penerbitan Kode Billing telah sesuai dengan isian 
        SSP/SSP PBB, Wajib Pajak menandatangani bukti penerbitan Kode Billing dan menyerahkannya 
        kembali kepada Teller Bank/Pos Persepsi. 
    f.     Teller Bank/Pos Persepsi memproses transaksi pembayaran pajak atas Kode Billing dimaksud. 
    g.     Wajib Pajak menerima kembali formulir bukti setoran lembar ke-1 dan lembar ke-3 yang telah 
        ditera dengan elemen-elemen data BPN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (4) serta 
        dibubuhi tanda tangan/paraf, nama pejabat Bank/Pos Persepsi dan cap Bank/Pos Persepsi 
        sebagai bukti bayar/setor. 
(2)     Kebenaran elemen data yang tertera pada BPN merupakan tanggung jawab Wajib Pajak yang telah 
    menandatangani bukti penerbitan Kode Billing. 


                        Pasal 8 

Kesalahan input data setoran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 7 ayat (1) huruf b 
diselesaikan melalui prosedur Pemindahbukuan dalam administrasi perpajakan. 


                        Pasal 9 

(1)     Kode Billing yang dibuat sendiri oleh Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 angka 1 
    dan/atau diperoleh melalui Bank/Pos Persepsi atau pihak lain yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak 
    sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 angka 2 berlaku selama 48 (empat puluh delapan) jam sejak 
    diterbitkan dan tidak dapat dipergunakan setelah melewati jangka waktu dimaksud. 
(2)     Kode Billing yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 
    angka 3 berlaku sampai dengan jatuh tempo pembayaran pajak, dan tidak dapat dipergunakan setelah 
    melewati jangka waktu dimaksud. 
(3)     Dalam hal Kode Billing tidak dapat dipergunakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), 
    Wajib Pajak atau Bank/Pos Persepsi dapat membuat kembali Kode Billing. 


                        Pasal 10 

Pada saat Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini mulai berlaku: 
a.     Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-47/PJ/2011 tentang Tata Cara Pelaksanaan Uji Coba 
    Penerapan Sistem Pembayaran Pajak secara Elektronik (Billing System) dalam Sistem Modul 
    Penerimaan Negara; dan 
b.     Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-19/PJ/2012 tentang Perubahan atas Peraturan Direktur 
    Jenderal Pajak Nomor PER-47/PJ/2011 tentang Tata Cara Pelaksanaan Uji Coba Penerapan Sistem 
    Pembayaran Pajak secara Elektronik (Billing System) dalam Sistem Modul Penerimaan Negara, 
dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.


                        Pasal 11

Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.


Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 13 Oktober 2014
DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

ttd.

A. FUAD RAHMANY

Share this:

Komentar Anda

Jadilah yang pertama dalam memberi komentar pada berita / artikel ini
Silahkan Login atau Daftar untuk mengirim komentar
Disclaimer

Member Menu

Tentang Kami

Director of  Rahayu & Partner  (A brand of CV. Rahayu Damanik Consulting, Indonesia) Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Welcome to  Rahayu & Partner , the ... Lihat selengkapnya
  • Alamat Kami:
    Cibinong
  • 085210254902 (Telkomsel ) 087874236215 (XL)
  • konsultanpajakrahayu1@gmail.com
Developed by Naevaweb.com