
FGD, 30 JUNI 2021
MEMBANGUN SISTEM PERPAJAKAN YANG ADIL, SEHAT, EFEKTIF, DAN AKUNTABEL FGD, 30 JUNI 2021 www.pajak.go.id (RUU PERUBAHAN KELIMA UU KUP)
Outline
FUNDAMENTAL PERPAJAKAN INDONESIA
Membangun Sistem Perpajakan Yang Adil,Sehat,Efektif, Dan Akuntabel
Penerimaan Perpajakan Sehat & Berkelanjutan
Basis Pajak Yang Luas Dan Kepatuhan Wajib Pajak Tinggi
ADIL SEHAT EFEKTIF AKUNTABEL
Antar Sektor Usaha, Sumber penerimaan Sederhana, Transparan dan
Antar Kelompok optimal, adaptif Kemudahan dapat dipertanggung
Penghasilan, terhadap perubahan, Pelayanan, jawabkan
Kepastian Hukum sesuai best practice Pengawasan Kuat,
Administration dan
Compliance Cost
minimal
Reformasi Kebijakan UU KUP, UU PPh, UU PPN, UU Cukai, Pajak Karbon
Reformasi Administrasi Organisasi, Sumber Daya Manusia, Teknologi Informasi & Basis Data, Proses Bisnis, Kerja Sama Kelembagaan
PONDASI PERPAJAKAN YANG ADIL, SEHAT, EFEKTIF, DAN AKUNTABEL
Reformasi yang Berkelanjutan Telah Memberikan Hasil Positif, Namun Masih Banyak Tantangan yang Harus Diselesaikan
Reformasi UU Perpajakan
• UU KUP, PPh, PPN
• UU TA
• UU Akses Keuangan
• UU Cipta Kerja
• Perppu 1 Tahun 2020
Reformasi Birokrasi (Cetak Biru DJP)
Modernisasi Kantor Pajak
• Pengawasan Berbasis Fungsi
• Pembentukan LTO, Khusus, Madya, Pratama
• Perbaikan IT
TANTANGAN KE DEPAN
• KURANG ADIL & REGRESIF Horizontal dan vertical equity belum optimal
• BASIS PAJAK SEMPIT
• DISTORTIF
Beberapa rezim pajak menimbulkan distorsi
• KOMPLEKSITAS SISTEM & KETIDAKSEMPURNAAN ADMINISTRASI
• TREN PERPAJAKAN GLOBAL Ekonomi digital dan
antisipasi penggerusan basis pajak
MENUJU IMPLEMENTASI MODERN GUIDING PRINCIPAL OFTAX POLICY
ADIL SEHAT EFEKTIF AKUNTABEL
Antar Sektor Usaha, Sumber penerimaan Sederhana, Transparan dan
Antar Kelompok optimal, adaptif Kemudahan dapat dipertanggung
Penghasilan, terhadap perubahan, Pelayanan, jawabkan
Kepastian Hukum sesuai best practice Pengawasan Kuat,
Administration dan
Compliance Cost
minimal
TANTANGAN TERKAIT PAJAK PENGHASILAN (PPH)
PPH Badan
WAJIB PAJAK RUGI 2012-2019
Jumlah WP yang melaporkan rugi menunjukkan peningkatan
Proporsi SPT Badan Rugi Fiskal terhadap Total SPT Badan,Tahun 2012-2019
WAJIB PAJAK RUGI 2012-2019
Jumlah WP yang melaporkan rugi menunjukkan peningkatan
2012-2016 = 5.199
2013-2017 =6.004
2014-2018 =7.110
2015-2019 =9.496
HASIL KAJIAN PENGHINDARAN PAJAK GLOBAL
• 60%-80% perdagangan dunia Potensi penggerusan basis
merupakan transaksi afiliasi pajak dan penggeseran laba
yang dilakukan perusahaan diperkirakan USD 100-240
multinasional. (OECD 2002, miliar per tahun – setara dengan
UNCTAD 2013). 4-10% penerimaan PPh Badan
• Untuk kasus Indonesia, 37- 42% global. (OECD)
dari PDB dilaporkan sebagai transaksi
afiliasi dalam SPT WP.
Perlu instrumen yang dapat menangkal penghindaran pajak global, seperti GAAR dan AMT
TANTANGAN TERKAIT PAJAK PENGHASILAN (PPh)
PPH Orang Pribadi dan Karyawan
PPh ORANG PRIBADI Kurang dari 1 persen jumlah WP OP yang Menyetor PPh Memiliki Penghasilan Kena Pajak di atas Rp5 Miliar
Keterangan: Data dari WP OP Karyawan yang dipotong PPh Pasal 21 dan WP OP Non Karyawan berdasarkan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi
TANTANGAN TERKAIT PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN)
1. C-Efficiency PPN Indonesia sebesar 63,58% artinya Indonesia hanya bisa mengumpulkan 63,58% dari total PPN yang seharusnya bisa dipungut
2. Terlalu banyak pengecualian atas barang dan jasa (4 kelompok barang dan 17 kelompok jasa) dan terlalu banyak fasilitas (PPN dibebaskan dan PPN tidak dipungut) sehingga menyebabkan distorsi dan terjadinya ketimpangan kontribusi sektor usaha pada PDB dan PPN DN
3. Tarif PPN 10% jauh lebih rendah dari tarif rata-rata dunia 15,4%
4. Tarif tunggal kurang mencerminkan keadilan
qKinerja PPN Indonesia masih berada di bawah Thailand dan Singapura.
q Jika dibandingkan rata-rata negara Mexico (37,88%) dan Turki (46,96%), Indonesia lebih baik.
q Tetapi jika dibandingkan dengan Afrika Selatan (70,24%%) dan Argentina (83,71%), maka kinerja PPN Indonesia masih berada di bawah.
Kinerja PPH – 2018
|
Indikator |
ASEAN and some other countries |
|||||
|
Indonesia |
Singapore |
Malaysia |
Philippines |
Thailand |
Rata-rata Turki, Argentina, Africa Selatan, dan Mexico |
|
|
Tarif PPN |
10.0% |
7.0% |
6.0% |
12.0% |
7.0% |
18.0% |
|
Rasio PPN |
3,62% |
2,27% |
1.67% |
2,06% |
3,88% |
6,62% |
|
Produktifitas PPN |
36.21% |
32,39% |
27,88% |
17,13% |
55,48% |
36,94% |
|
Rasio Konsumsi di PDB |
56.95% |
34.95% |
57.42% |
73.83% |
48.74% |
61,62% |
|
Kinerja PPN ( C-effciency) |
63,58% |
92,69% |
48,56% |
23,20% |
113,83% |
59,70% |
Source: kajian IMF, data diolah - Rasio PPN = Penerimaan PPN / PDB.
- Produktifitas PPN = Rasio PPN / Tarif PPN
. - Kinerja PPN (C-efficiency) =Produktifitas PPN / Rasio Konsumsi.
KONTRIBUSI SEKTORAL TERHADAP PDB DAN PPN DN
Fasilitas PPN mengakibatkan ketimpangan kontribusi sektor usaha pada PDB dan PPN DN, antara lain terlihat pada sektor Pertanian, Pertambangan, Jasa Keuangan, Jasa Pendidikan, dan Jasa Kesehatan
Share PDB Nominal Rata-rata 2016-2019 Share PPN DN Bruto Share PDB Nominal
20,9% Manufaktur 34,0% 20,6%
17,0% Konstruksi & Real Eastat 22,6% 14,2%
13,6% Perdagangan 22,5% 13,4%
13,6% Pertanian 1,7% 14,2%
7,8% Pertambangan 2,1% 6,7%
5,6% Transportasi & Pergudangan 4,7% 4,6%
4,4% Jasa Keuangan 1,3% 4,7%
3,9% Infokom 4,3%4,7%
3,8% Adm. Pemerintahan 4,0%3,9%
3,4% Jasa Pendidikan 0,1%3,7%
2,9% Akomodasi & Mamin 0,2%2,0%
1,9% Jasa Lainnya 0,6% 2,0%
1,1% Jasa Kesehatan 0,2% 1,4%
Tahun 2020 Share PPN DN Bruto
Manufaktur 37,1%
Konstruksi & Real Eastat 12,9%
Perdagangan 22,7%
Pertanian 1,9%
Pertambangan 2,3%
Transportasi & Pergudangan 4,9%
Jasa Keuangan 1,3%
Infokom 4,4%
Adm. Pemerintahan 3,4%
Jasa Pendidikan 0,1%
Akomodasi & Mamin 0,5%
Jasa Lainnya 5,1%
Jasa Kesehatan 0,2%
ANGGARAN PENDIDIKAN DALAM APBN 2020
Dukungan Pemerintah untuk Pendidikan yang Bermutu dan Penerimaan Pajak dari Sektor Pendidikan
PENERIMAAN PERPAJAKAN: Rp2,95 T
Perpajakan Rp2,95 T (-11,14%, yoy)2018: Rp2,88 T
2019: Rp3,32 T
s.d Mei 2021: 1,10 T
§ Pajak Netto Jasa Pendidikan: Rp2,95 T
§ Bea Masuk Jasa Pendidikan: Rp1,39 T Tax Expenditure sektor Pendidikan Rp12,54 T (perkiraan sangat sementara th 2020 + PEN)
REALISASI APBN 2020 BIDANG PENDIDIKAN
BELANJA NEGARA: Rp455,66 T (2021:Rp483,60 T)
Belanja Pem. Pusat Rp174,25 T (12,30%, yoy) 2018: Rp142,89 T
2019: Rp155,16 T
2021: Rp184,54T
• K/L Rp155,11 T: Kemendikbud Rp79,06 T, Kemenag Rp58,49 T, Kemenristek/BRIN Rp1,45 T, dan K/L lainnya Rp16,10 T (al. KemenPUPR, Kemenkes, Kemenhub, Kemenperin, Kemenaker)
• Non K/L (BA BUN): Rp19,13 T untuk program Kartu Prakerja.
TKDD Rp281,41 T (-9,17%, yoy) 2018: Rp280,62 T
2019: Rp309,83 T
2021: Rp 299,06T
• DTU yang diperkirakan utk Pendidikan Rp150,22T
• DAK Fisik Rp18,03 T
• DAK Non Fisik Rp109,60 T
• Dana Otonomi Khusus yang diperkirakan utk Pendidikan Rp3,56 T
PEMBIAYAAN: Rp18,0 T (2021: RP 66,4 T)
Pembiayaan Rp18,0 T (268,9%, yoy) 2018: Rp15,0 T
2019: Rp6,0 T
2021; Rp66,4 T
§ Dana Pengembangan Pendidikan Nasional Rp10,0T
§ Dana Abadi Penelitian Rp4,0 T
§ Dana Abadi Kebudayaan Rp1,0 T
§ Dana Abadi Perguruan Tinggi Rp3,0 T
Catatan: * LKPP UNAUDITED
ANGGARAN KESEHATAN DALAM APBN 2020
Dukungan Pemerintah untuk Program Kesehatan termasuk Penanganan COVID-19 dan Penerimaan Pajak dari Sektor Kesehatan
PENERIMAAN PERPAJAKAN Rp27,15 T
Perpajakan Rp27,15T (-1,3%, yoy)2018: Rp25,58T
2019: Rp27,51T
s.d Mei: Rp9,29 T
§ Pajak Netto: Industri Farmasi, Perdagangan obat dan alkes, Jasa Kesehatan sebesar Rp27,15T
§ Pembebasan BM (fasilitas utk penanganan Covid19) sebesar Rp1,05T (Q1 2021: Rp438,81 M)
REALISASI APBN 2020 BIDANG KESEHATAN
BELANJA NEGARA Rp193,4 T (2021: Rp290,0 T
Belanja Pem. Pusat Rp150,13T (74,4%, yoy) 2018: Rp82,0 T
2019: Rp84,0 T
2021: Rp213,8 T
§ K/L Rp136,69T a.l: Kemenkes, Kemenhan, BPOM, BKKBN, Polri
§ Non K/L Rp13,44T a.l untuk pembayaran jaminan pelayanan kesehatan ASN/Pejabat Negara, bantuan iuran PBI JKN Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) dan Bukan Pekerja (BP) kelas III
§ BM DTP Covid untuk sektor kesehatan (pagu Rp188,26M), belumada yang memanfaatkan
TKDD Rp46,91T (58,5%, yoy) 2018: Rp27,0 T
2019: Rp29,6 T
2021: Rp76,2 T
§ DAK Fisik Kesehatan Rp19,18T§ DTU : Rp4,46T
§ DAK NonFisik: BOK dan BOKB Rp11,53T§ DBH CHT: Rp2,52T
§ Dana Otsus Rp1,87T§ DID : Rp4,18T
§ Dana Desa : Rp3,17T
PEN Kesehatan Rp63,51T 2021: Rp172,8T**
§ Belanja Penanganan Covid-19 Rp42,52T
§ Insentif Nakes Rp9,55T
§ Santunan Kematian Rp0,06T
§ Bantuan Iuran JKN Rp4,11T
§ Gugus Tugas Covid-19 Rp3,22T
§ Insentif perpajakan di Bidang Kesehatan Rp4,05T
Catatan: * LKPP UNAUDITED Belanja Pem Pusat dan TKDD di dalamnya termasuk PEN Kesehatan . ** Alokasi PEN 2021 masih dapat bergerak
ANGGARAN BIDANG PERTANIAN DALAM APBN 2020
Dukungan Pemerintah untuk Peningkatan Produktivitas Komoditi Pangan dan Penerimaan Pajak dari Sektor Pertanian
Perpajakan Rp13,5 T (-22,4%, yoy) 2018: Rp19,9 T
2019: Rp17,4 T
s.d Mei 2021: Rp7,3 T
§ Pajak Netto (Pertanian, Perternakan, Kehutanan, dan Perikanan): Rp13,2 T
§ Bea Masuk (Pertanian, Kehutanan, Perikanan): Rp183,4 M
§ Bea Keluar (Perkebunan, Kehutunan): Rp93,2M Tax Expenditure sektor Pertanian Rp20,7T (angka sangat sementara)
REALISASI APBN 2020 BIDANG PERTANIAN
BELANJA NEGARA: Rp114,36 T (2021: Rp121,59 T)
Belanja Pem. Pusat Rp111.86 T (14,00%, yoy) 2018: Rp92,75 T
2019: Rp98,13 T
2021: Rp116,09 T
• K/L Rp72,00 T:
• Non K/L Rp39,86 T:
TKDD Rp2,50 T (-52,2%, yoy) 2018: Rp6,14 T
2019: Rp5,23 T
2021: Rp5,50 T
• DAK Irigasi Rp1,35 T
• DAK Pertanian Rp0,51 T
• DAK Kelautan dan Perikanan Rp0,64 T
Catatan: * LKPP UNAUDITED
BENCHMARKING PENGECUALIAN DAN FASILITAS PPN
|
No. |
NEGARA |
NON BKP |
NON JKP |
FASILITAS |
|
1. |
Singapore |
Properti tempat tinggal, logam berharga, barang utk keperluan investasi |
jasa keuangan, sewa properti tempat tinggal |
Tidak ada |
|
2. |
Thailand |
Barang pertanian, peternakan, perikanan, koran & buku, pupuk |
Kesehatan, angkutan umum, leasing property |
FTZ, KB, penjualan barang kpd PNA/BI, ekspor jasa |
|
3 |
India |
cereal, sayur dan buah, transfer of going concern |
Perhotelan < INR 1,000 per day, sewa property tempat tinggal |
Special Economic Zone |
|
4. |
China Mainland |
Tidak ada |
Tidak ada |
Special Economic Zone |
|
5. |
Indonesia |
Barang pertanian, peternakan, perikanan, tambang, kebutuhan pokok, emas, uang, surat berharga, makanan/minuman di restoran. |
Jasa Pendidikan, Kesehatan, keuangan,sosial, asuransi, keagamaan, kesenian dan hiburan, angkutan umum, perhotelan, parkir, dll |
Kawasan (FTZ,KEK, KB) Barang Tertentu dan Strategis Jasa tertentu. |
BENCHMARK TARIF PPN GLOBAL
Tarif PPN di Indonesia 10% relatif lebih rendah dibandingkan negara-negara lain yang menerapkan VAT dan GST
|
Rate |
0% |
2,5-<10% |
10% |
11-20% |
>20% |
|
County |
17 |
26 |
21 |
104 |
24 |
1.Kuwait – 0% 1.Afghanistan – 10%
2.Iraq – 0% 2.Australia – 10%
3.Macau – 0%3.Cambodia – 10%
4.Libya – 0% 4.Comorus – 10%
5.Maldives – 0% 5.Egypt – 10%
6.Oman – 0%6.Haiti – 10%
7.Hong Kong – 0%7.Indonesia – 10%
1.Cuba – 2.5% 8.Vietnam – 10%
2.Guam – 4% 1.Brazil – 17% sd 19%
3.Eritrea – 4%2.Argentina – 21%
4.Micronesia –5% 3.Finland – 24%
5.Myanmar – 5%4.Sweden – 25%
6.Yemen – 5% 5.Denmark – 25%
7.Cape Verde – 5% 6.Norway – 25%
8.Singapore -7% 7.Croatia – 25%
9.Thailand – 7%8.Hungary – 27%
TREND KENAIKAN TARIF PPN GLOBAL
|
Date |
Country |
Current rate |
New rate |
|
01/07/2020 |
Saudi Arabia |
5% |
15% |
|
01/01/2021 |
Belgium |
6% |
12% |
|
01/01/2021 |
Lithuania |
9% |
21% |
|
30/04/2021 |
Greece |
13% |
24% |
|
01/06/2021 |
Norway |
6% |
12% |
|
01/07/2021 |
Turkey |
8% |
18% |
|
16/08/2022 |
Czech |
10% |
15% |
|
01/01/2022 |
Bulgaria |
9% |
20% |
|
Moldova |
12% |
20% |
BENCHMARK NEGARA-NEGARA YANG MENERAPKAN PPN MULTITARIF
|
Countries |
VAT tax rates |
||
|
VAT/GST (standard) |
(Reduced/below standard rate) |
(Increased/above standard rate) |
|
|
Argentina |
21% |
0%, 2.5%, 5%, 10.5% |
27% |
|
Austria |
20%; 19% (for the regions of Jungholz and Mittelberg) |
0%, 10%, 13% |
no |
|
Bangladesh |
15% |
0%, 5%, 7.5%, 10% |
10%-500% (supplementary tax on luxury goods and "socially undesirable" goods) |
|
Belgium |
21% |
0%, 6%, 12% |
no |
|
Chile |
19% |
15%-19% |
19%-50% |
|
Colombia |
19% |
0%, 5% |
no |
|
Germany |
19% |
0%, 7% |
no |
|
India |
12%, 18% |
0%, 5% |
28% + varied cess |
|
Liechtenstein |
7,7% |
0%, 2.5%, 3.7% |
no |
|
Luxembourg |
17% |
0%, 3%, 8%, 14% |
no |
|
Monaco |
20% |
2.1%, 5.5%, 10% |
no |
|
Countries |
VAT tax rates |
||
|
VAT/GST (standard) |
(Reduced/below standard rate) |
(Increased/above standard rate) |
|
|
Netherlands |
21% |
0%, 9% |
no |
|
New Zealand |
15% |
0%, 9% (effective rate based on GST valuation rules) |
no |
|
Paraguay |
10% |
0%, 5% |
no |
|
Philippines |
12% |
0% 5% (final withholding on sales to government entities) |
no |
|
PRC (China) |
13% |
6%, 9% |
no |
|
Sri Lanka |
8% |
0% |
15% on financial services |
|
Switzerland |
7,7% |
0%, 2.5%, 3.7% |
no |
|
Uruguay |
22% |
0%, 10% |
no |
|
Venezuela |
16% |
0%, 8% |
31% |
CONTOH PENERAPAN REDUCED RATE DI BEBERAPA NEGARA
|
NO. |
Negara |
Status |
Standard Rate |
Reduced Rate |
Reduced Rate Items |
|
1. |
Austria |
Objek |
20% |
13% |
Agricultural supplies |
|
2. |
Columbia |
Objek |
19% |
5% |
Certain agricultural products |
|
3. |
Czech Republic |
Objek |
21% |
15% |
Agricultural products |
|
4. |
France |
Objek |
20% |
10% |
Farm product |
|
5. |
Greece |
Objek |
24% |
13% |
basic food goods |
|
6. |
Hungary |
Objek |
27% |
5% |
meat of domestic pig; meat and edible offal of poultry |
|
7. |
Ireland |
Objek |
23% |
4,80% |
agricultural production |
|
8. |
Italy |
Objek |
22% |
10% |
livestock meat and fish |
|
9. |
Latvia |
Objek |
21% |
5% |
fresh fruit, berries, and vegetables |
|
10. |
Poland |
Objek |
23% |
5% |
certain foodstuffs |
|
11. |
Portugal |
Objek |
23% |
6% |
Essential food |
|
12 |
Slovenia |
Objek |
22% |
10% |
Foodstuff |
|
13. |
Spain |
Objek |
21% |
4% |
Basic foodstuff |
|
14. |
Turkey |
Objek |
18% |
8% |
Basic food |
|
Rata-Rata |
21,70% |
8,10% |
TANTANGAN TERKAIT KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN (KUP)
Untuk memberikan keadilan dan efektifitas administrasi perpajakan, diperlukan:
1. Ketentuan mengenai kegiatan bantuan penagihan pajak antarnegara, meskipun Indonesia telah mengikatkan diri dalam perjanjian multilateral
2. Ketentuan mengenai pengenaan sanksi apabila terdapat Putusan Peninjauan Kembali terkait Putusan Banding atas Surat Ketetapan Pajak
3. Ketentuan penyelesaian sengketa perjanjian perpajakan internasional
4. Ketentuan umum untuk menunjuk pihak ketiga sebagai pemungut pajak dalam rangka mengantisipasi perkembangan bisnis ke depan
5. Ketentuan penguatan penegakan hukum pidana pajak yang mengedepankan ultimum remedium
TANTANGAN TERKAIT CUKAI DAN PAJAK KARBON
Cukai
Terbatasnya jenis barang kena cukai, yaitu etil alkohol, minuman beralkohol, dan hasil tembakau
Pajak Karbon
1. Komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebanyak 26% (2020) dan 29% (2030) sesuai kesepakatan konvensi perubahan iklim dengan tujuan untuk mengendalikan emisi gas rumah kaca dan mengubah perilaku ekonomi yang menghasilkan emisi karbon
2. Belum ada dasar regulasi untuk mengenakan pungutan atas emisi karbon sebagai salah satu instrumen untuk mengendalikan emisi gas rumah kaca sehingga diperlukan ketentuan mengenai pengenaan pajak karbon
PERBANDINGAN PENGENAAN CUKAI-ASEAN
|
INDONESIA |
THAILAND |
PHILLIPINES |
CAMBODIA |
VIETNAM |
BRUNEI |
LAO PDR |
MALAYSIA |
MYANMAR |
SINGAPORE |
|
|
MINUMAN BERALKOHOL |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
HASIL TEMBAKAU (ROKOK) |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
KENDARAAN BERMOTOR |
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
SEPEDA MOTOR |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
MINUMAN NON-ALKOHOL |
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
BARANG LAIN |
|
|
|
|
|
|
||||
|
KLUB MALAM & DISKOTIK |
|
|
|
|
|
|||||
|
JASA TELEPON |
|
|
|
|||||||
|
PERJUDIAN (Ex:Mahjong Tiles & Playing Card) |
|
|
|
|
|
|||||
|
JASA LAIN |
|
|
|
|
INDONESIA RENTAN TERHADAP PERUBAHAN IKLIM
RISIKO ATAS PENINGKATAN SUHU GLOBAL
KETAHANAN AIR
Meningkatnya tingkat banjir dan kekeringan yang parah akan memperparah kelangkaan air bersih.
EKOSISTEM LAHAN
Secara ilmiah diprediksi bahwa kebakaran hutan yang parah akan sangat terjadi. Hal ini dapat menyebabkan hilangnya ekosistem, keanekaragaman hayati, dan perubahan Biomasa.
LAUTAN
Naiknya suhu permukaan laut menyebabkan punahnya terumbu karang, rumput laut, mangrove, beberapa keanekaragaman hayati dan ekosistem laut.
KETAHANAN KESEHATAN
Banjir dapat menyebabkan penyebaran penyakit yang ditularkan melalui vektor dan kematian akibat tenggelam.Kenaikan suhu dapat menyebabkan kematian akibat serangan panas.
KETAHANAN PANGAN
Perubahan produksi bioma dan ekosistem dapat menyebabkan kelangkaan pangan bagi semua makhluk.
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri lebih dari 17.508 pulau. Meliputi area seluas sekitar 790 juta hektar dengan total panjang garis pantai 95.181 km dan wilayah daratan sekitar 200 juta hektar.
Oleh karena itu, Indonesia sangat rentan terhadap dampak buruk perubahan iklim.
Perubahan Iklim diyakini dapat meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi, yang meliputi 80% bencana yang terjadi di Indonesia. Sumber:
Komentar Anda