Contact Whatsapp085210254902

Info Terkini! Penggunaan Tabungan oleh Kelas Menengah Semakin Memburuk

Ditulis oleh Administrator pada Senin, 30 September 2024 | Dilihat 708kali
Info Terkini! Penggunaan Tabungan oleh Kelas Menengah Semakin Memburuk

Data dari tim ekonom Bank Mandiri menunjukkan bahwa kondisi "makan tabungan" atau yang dikenal sebagai 'mantab', di mana masyarakat menggunakan tabungannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, semakin memburuk pada pertengahan tahun 2024, khususnya bagi kelompok kelas menengah. Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengungkapkan bahwa pada awal tahun 2024, tingkat tabungan nasabah kelas menengah (middle) masih berada di angka 99. Namun, angka tersebut terus menurun hingga mencapai 94,8 pada Juli 2024. Kondisi ini lebih buruk dibandingkan tahun 2023, di mana tabungan kelas menengah masih berada di atas 100.

"Awalnya, kondisi tabungan kelompok menengah relatif stabil di angka 99, tapi mulai turun sejak awal tahun," kata Andry dalam diskusi dengan media di Anyer, Serang, Banten, pada Jumat (27/9/2024). Data yang diungkapkan Andry berasal dari Mandiri Spending Index (MSI) dan data tabungan nasabah Bank Mandiri. Kelompok yang dimaksud Andry sebagai "middle" adalah mereka yang bekerja di sektor formal, seperti karyawan tetap.

Berbeda dengan kelas menengah, Andry menjelaskan bahwa kelas bawah justru mengalami peningkatan dalam jumlah tabungan sejak awal tahun 2024. Tingkat tabungan kelas bawah meningkat dari angka 40-an ke 47,9 poin pada pertengahan tahun, yang didorong oleh adanya bantuan sosial di awal 2024. "Bansos memiliki dampak yang signifikan, sehingga mereka pulih," jelas Andry.

Sementara itu, kelompok kelas atas mengalami peningkatan tabungan yang lebih signifikan. Sejak awal 2024, tabungan mereka melonjak dari angka di bawah 100 menjadi 106,2 pada Juli 2024. Andry menyebut bahwa kelompok middle-upper ini masih memiliki daya beli yang kuat. Kondisi ini menjelaskan mengapa konser-konser tetap ramai meskipun daya beli masyarakat secara umum melemah.

"Kelompok middle-upper ini mengalami lonjakan tabungan! Ini menjelaskan mengapa meski daya beli menurun, konser-konser masih dipenuhi dengan antrian tiket yang sangat tinggi," ujar Andry.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menambahkan bahwa fenomena makan tabungan terjadi ketika peningkatan pengeluaran lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan seseorang. Untuk mengatasi masalah ini, Josua menyarankan agar masyarakat mengurangi pengeluaran atau meningkatkan pendapatan.

Salah satu cara mengurangi pengeluaran adalah dengan menjaga harga barang tetap stabil, terutama harga pangan. Selain itu, Josua juga menekankan pentingnya menjaga aksesibilitas pelayanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan. Di sisi lain, pemerintah juga harus meningkatkan ketersediaan lapangan kerja di sektor formal. "Jika terlalu banyak pekerjaan paruh waktu di sektor informal, pendapatannya tidak akan sebesar sektor formal," tambah Josua.

Share this:

Komentar Anda

Jadilah yang pertama dalam memberi komentar pada berita / artikel ini
Silahkan Login atau Daftar untuk mengirim komentar
Disclaimer

Member Menu

Tentang Kami

Director of  Rahayu & Partner  (A brand of CV. Rahayu Damanik Consulting, Indonesia) Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Welcome to  Rahayu & Partner , the ... Lihat selengkapnya
  • Alamat Kami:
    Cibinong
  • 085210254902 (Telkomsel ) 087874236215 (XL)
  • konsultanpajakrahayu1@gmail.com
Developed by Naevaweb.com