Contact Whatsapp085210254902

Rakyat menjerit karena sosok pencipta pajak

Ditulis oleh Administrator pada Rabu, 18 September 2024 | Dilihat 703kali
Rakyat menjerit karena sosok pencipta pajak

Pajak menjadi salah satu alat kebijakan yang digunakan pemerintah untuk meningkatkan pendapatan negara. Melalui pajak, pemerintah menarik dana dari masyarakat atas transaksi, kepemilikan aset, barang, dan lainnya. Dana pajak ini digunakan untuk membiayai pembangunan demi kesejahteraan rakyat. Namun, di sisi lain, beban pajak kerap kali menimbulkan keluhan, terutama dari kalangan kelas menengah. Kelompok ini, yang penghasilannya tidak terlalu besar, merasa terbebani oleh pajak yang cukup berat. Akibatnya, mereka merasa jengkel, menganggap diri mereka sebagai sasaran pemerasan oleh negara. Namun, kemarahan ini seharusnya tidak hanya ditujukan kepada negara, melainkan juga kepada pencetus sistem pajak pertama dalam sejarah, yaitu Firaun dari Peradaban Mesir Kuno.

Sejarah mencatat bahwa sekitar 3000 SM, peradaban Mesir yang dipimpin oleh Firaun menciptakan sistem pungutan kepada rakyat, yang kita kenal saat ini sebagai pajak. Tujuan Firaun memberlakukan pajak adalah untuk membiayai pembangunan dan menjaga stabilitas sosial. Pajak dikenakan pada berbagai barang seperti gandum, tekstil, tenaga kerja, dan komoditas lainnya. Biasanya, hasil pajak digunakan untuk sektor yang sama. Sebagai contoh, pajak atas gandum akan digunakan untuk pembangunan lumbung gandum. Firaun tidak memberlakukan pajak secara merata, melainkan disesuaikan dengan kemampuan finansial masing-masing objek pajak. Sebagai contoh, ladang yang sangat produktif atau memiliki hasil panen melimpah akan dikenakan pajak tinggi, sementara ladang yang kurang produktif akan dikenakan pajak lebih rendah.

"Ladang-ladang dikenakan pajak dengan cara yang berbeda-beda, bergantung pada produktivitasnya serta kesuburan dan kualitas tanah," jelas sejarawan Moreno Garcia kepada Smithsonian Magazine. Selain itu, pajak juga dipengaruhi oleh ketinggian air Sungai Nil, yang diukur melalui sistem nilometer. Nilometer ini adalah alat pengukur ketinggian air yang berupa garis-garis di tangga. Jika air Sungai Nil naik di atas garis tersebut, maka itu menandakan banjir yang menyebabkan penurunan hasil panen, sehingga pajak yang dikenakan pun lebih rendah. Sebaliknya, jika air tidak mencapai garis tersebut, pajak yang dikenakan akan lebih tinggi.

Semua pajak ini dikumpulkan untuk mengisi kas negara, dan hampir seluruh warga dikenakan pajak tanpa pengecualian. Hal ini menambah beban masyarakat, terutama karena di Mesir Kuno juga diterapkan sistem kerja paksa atau rodi, di mana semua warga Mesir diwajibkan bekerja untuk negara dalam proyek-proyek publik seperti pengolahan lahan, penambangan, dan pembangunan infrastruktur. Namun, bukan berarti tidak ada yang mencoba menghindari pajak. Menurut Samuel Blankson dalam *A Brief History Of Taxation* (2007), banyak orang yang tidak ingin penghasilannya dipotong, sehingga mereka berupaya mengelak.

Salah satu cara yang sering dilakukan adalah bersekongkol antara pencatat pajak dengan wajib pajak. Wajib pajak sering tidak melaporkan penghasilan sebenarnya, agar potongan pajaknya lebih kecil. Mereka juga sering memanipulasi alat ukur seperti timbangan, supaya jumlah pajak yang harus dibayar lebih sedikit. Pada akhirnya, sistem pemungutan pajak yang diperkenalkan oleh Firaun Mesir Kuno ini tetap bertahan hingga kini, dan menjadi inspirasi bagi negara-negara untuk mengelola penerimaan negara. Sistem tersebut kini dikenal luas sebagai pajak.

Share this:

Komentar Anda

Jadilah yang pertama dalam memberi komentar pada berita / artikel ini
Silahkan Login atau Daftar untuk mengirim komentar
Disclaimer

Member Menu

Tentang Kami

Director of  Rahayu & Partner  (A brand of CV. Rahayu Damanik Consulting, Indonesia) Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Welcome to  Rahayu & Partner , the ... Lihat selengkapnya
  • Alamat Kami:
    Cibinong
  • 085210254902 (Telkomsel ) 087874236215 (XL)
  • konsultanpajakrahayu1@gmail.com
Developed by Naevaweb.com