Contact Whatsapp085210254902

Makin besar biaya pajak manufaktur

Ditulis oleh Administrator pada Senin, 26 Agustus 2024 | Dilihat 578kali
Makin besar biaya pajak manufaktur

Insentif perpajakan terus mengalami peningkatan sepanjang periode kedua pemerintahan Joko Widodo, dimulai sejak 2020, dari Rp246,1 triliun hingga diproyeksikan mencapai Rp445,5 triliun pada tahun 2025. Namun, pertumbuhan kontribusi penerima insentif terhadap ekonomi belum optimal. Sektor industri pengolahan menjadi yang paling banyak menerima berbagai bentuk relaksasi pajak dari pemerintah, dengan rata-rata 26,3% dari total belanja perpajakan setiap tahunnya mengalir ke sektor ini. Menurut Direktur Eksekutif Pratama-Kreston Tax Research Institute, Prianto Budi Saptono, sektor ini dipilih karena dianggap memiliki efek multiplier yang signifikan bagi perekonomian, terutama karena karakteristiknya yang padat karya dan padat modal.

Dengan adanya insentif ini, dana tambahan yang dimiliki perusahaan dan masyarakat dapat dialokasikan untuk pembelian barang dan jasa, yang pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia dari sisi pengeluaran, terutama konsumsi rumah tangga. Belanja perpajakan digunakan sebagai instrumen kebijakan fiskal di sisi pengeluaran dalam APBN, sering disebut sebagai kebijakan pengeluaran pemerintah tidak langsung. Contohnya adalah pajak ditanggung pemerintah (DTP), di mana pengeluaran pemerintah dilakukan secara tidak langsung.

Share this:

Komentar Anda

Jadilah yang pertama dalam memberi komentar pada berita / artikel ini
Silahkan Login atau Daftar untuk mengirim komentar
Disclaimer

Member Menu

Tentang Kami

Director of  Rahayu & Partner  (A brand of CV. Rahayu Damanik Consulting, Indonesia) Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Welcome to  Rahayu & Partner , the ... Lihat selengkapnya
  • Alamat Kami:
    Cibinong
  • 085210254902 (Telkomsel ) 087874236215 (XL)
  • konsultanpajakrahayu1@gmail.com
Developed by Naevaweb.com