
Adi Indarto Hartono, Ketua Komite Umum Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI), optimistis terkait potensi pasar surat utang (obligasi) di Indonesia pada tahun 2024. Keyakinan ini didasarkan pada fondasi ekonomi Indonesia yang kuat dengan tingkat inflasi yang rendah, yang pada gilirannya meningkatkan imbal hasil obligasi. Selain obligasi negara, obligasi korporasi juga dianggap sebagai opsi investasi yang menarik. Selanjutnya, simak artikel berikut ini.
Definisi obligasi
Obligasi merupakan instrumen utang dengan jangka waktu menengah hingga panjang yang dapat diperdagangkan. Obligasi mengandung janji dari pihak yang menerbitkan efek untuk membayar imbalan berupa bunga (kupon) secara berkala dan melunasi pokok utang pada akhir masa berlaku, kepada pemegang obligasi.
Definisi obligasi korporasi
Obligasi korporasi merujuk pada obligasi yang dikeluarkan oleh perusahaan swasta, termasuk Badan Usaha Milik Negara/Daerah (BUMN/BUMD).
Keuntungan berinvestasi dalam obligasi korporasi
1. Memberikan pendapatan tetap (fixed income) melalui kupon atau bunga
Tingkat bunga atau kupon yang ditawarkan oleh obligasi umumnya lebih tinggi daripada bunga deposito perbankan. Ini menjadi ciri khas obligasi, di mana pemegang obligasi menerima pendapatan bunga secara teratur selama periode berlakunya obligasi. Bunga yang diberikan oleh obligasi biasanya lebih menguntungkan dibandingkan dengan deposito atau sertifikat Bank Indonesia (BI).
2. Potensi keuntungan dari penjualan obligasi (capital gain)
Selain pendapatan berupa kupon, pemegang obligasi dapat menjual obligasi yang dimilikinya. Apabila penjualan dilakukan dengan harga yang lebih tinggi daripada harga beli, pemegang obligasi akan meraih selisihnya sebagai keuntungan (capital gain).
Risiko berinvestasi dalam obligasi korporasi
1. Risiko ketidakmampuan perusahaan membayar kupon atau mengembalikan pokok obligasi
Meskipun jarang terjadi, risiko ketidakmampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban pembayaran (default) tetap ada. Oleh karena itu, penting untuk memastikan keandalan obligasi korporasi yang akan dibeli.
2. Risiko tingkat suku bunga (interest rate risk)
Pergerakan harga obligasi sangat dipengaruhi oleh perubahan tingkat suku bunga. Harga obligasi cenderung bergerak berlawanan arah dengan tingkat suku bunga. Artinya, jika suku bunga naik, harga obligasi akan turun, dan sebaliknya. Oleh karena itu, investor obligasi perlu memperkirakan pergerakan tingkat suku bunga agar dapat membuat keputusan apakah akan mempertahankan, membeli, atau menjual obligasi yang dimiliki.
Untuk konten edukasi perpajakan lainnya kalian bisa kunjungi link dibawah ini
https://youtube.com/@setianingrahayu2523?si=6zkwXhPGbEBC8tVU
Komentar Anda