
Dalam rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI), diputuskan untuk meningkatkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6 persen. Gubernur BI Perry Warjiyo mengonfirmasi bahwa peningkatan suku bunga acuan ini bertujuan untuk menguatkan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah menghadapi meningkatnya ketidakpastian global, serta sebagai tindakan preventif untuk mengatasi dampaknya terhadap inflasi barang impor (imported inflation). Hal ini diharapkan akan menjaga inflasi agar tetap dalam sasaran sekitar 3,0±1 persen (tahun 2023) dan 2,5±1 persen (tahun 2024).
Perry menjelaskan bahwa kebijakan ini didukung oleh efektivitas implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) dan penurunan rasio Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM) guna mendorong kredit/pembiayaan yang mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Upaya untuk meningkatkan digitalisasi sistem pembayaran juga terus diperkuat untuk memperluas inklusi ekonomi dan keuangan digital, termasuk dalam transaksi keuangan pemerintah pusat dan daerah.
Perry menegaskan bahwa kombinasi kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran BI bertujuan untuk menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Langkah-langkah konkret termasuk stabilisasi nilai tukar rupiah melalui intervensi di pasar valas, penguatan strategi operasi moneter, penerbitan instrumen moneter seperti Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI), serta implementasi kebijakan makroprudensial untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di sektor-sektor prioritas.
BI juga bekerja sama dengan pemerintah untuk memperkuat kebijakan fiskal dan melakukan koordinasi dalam pengendalian inflasi, terutama inflasi pangan di berbagai daerah. Digitalisasi sistem pembayaran dan kerja sama dengan bank sentral negara mitra juga menjadi bagian dari upaya ini.
Perry menjelaskan bahwa semua tindakan ini bertujuan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan tahan terhadap dampak eksternal. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan tetap kuat, berkisar antara 4,5-5,3 persen pada tahun 2023 dan diperkirakan akan meningkat pada tahun 2024. Konsumsi swasta, terutama konsumsi generasi muda, diharapkan akan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi, didukung oleh peningkatan konsumsi di sektor jasa dan tingginya keyakinan konsumen.
Komentar Anda