
Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2023 akan tetap solid, berkisar antara 5-5,3 persen. Ketua KSSK dan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, menjelaskan bahwa ada empat indikator yang mendukung proyeksi ini.
Pertama, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal kedua 2023 masih kuat, didukung oleh aktivitas manufaktur yang ekspansif. Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers Index/PMI) untuk sektor manufaktur Indonesia pada Juli 2023 meningkat menjadi 53,3, yang lebih tinggi dibandingkan dengan 52,5 pada bulan Juni 2023.
Kedua, konsumsi rumah tangga juga mengalami peningkatan. Ini dipicu oleh peningkatan mobilitas, optimisme mengenai pendapatan, inflasi yang terkendali, dampak positif dari Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), dan pembayaran gaji ke-13 kepada Aparatur Sipil Negara (ASN). Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dan Indeks Penjualan Ritel (IPR) juga terus menunjukkan pertumbuhan positif.
Ketiga, investasi non-bangunan masih menunjukkan tanda-tanda ekspansi, meskipun investasi dalam sektor bangunan masih tertahan. Hal ini sejalan dengan kinerja ekspor yang positif dan terus berlanjutnya hilirisasi.
Keempat, kinerja anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) hingga semester pertama 2023 tetap stabil, meskipun ada penurunan harga komoditas yang normalisasi. Pendapatan negara tetap tumbuh positif.
Pada saat yang sama, pemerintah akan melanjutkan dan menyelesaikan berbagai program pembangunan yang telah direncanakan hingga akhir tahun 2023, termasuk infrastruktur, pemilu, dan program bantuan sosial (bansos). Subsidi energi juga akan tetap diberikan untuk mendukung daya beli masyarakat. Pengelolaan APBN akan tetap responsif dan adaptif, dengan menjaga prinsip kehati-hatian.
Komentar Anda