Contact Whatsapp085210254902

MEMAKNAI PENGINTEGRASIAN MEA -2015

Ditulis oleh Administrator pada Jumat, 21 November 2014 | Dilihat 1388kali

OLeh : Martani Husaeni

Pengajar dan periset Copettive Dynamic UI

Sebuah Negara yang  berdaya saing tinggi pada umumnya dapat ditandai dari keseriusan dan komitmennya dalam mencetak Manusia yag bersumber daya

(MSD;Otak & Watak).

Siapa yang tak kenal Negara Korea Selatan dan sigapura? Kemajuan akan industry dan pereknomiannya tak perlu diragukan lagi. Tetapi tidak banyak orang mengira bahwa kemajuan tersebut sangat ditentukan oleh kegigihan megimplementasikan sebuah skenario mimpi  besar yang  bernama  “Vision” kala ditarik garis sejarah pada tahun 60an , kemajuan dan daya saing kedua bangsa ini tidak teralu jauh  berbeda dengan Negara Indonesia sangat tertingal dari segi industry  ekonomi maupun aspek manusianya sebagai penopang pondasi daya saing bangsa.

Mengapa korea selatan dan singapura ( salah satu anggota MEA) bisa maju pesat?

untuk membangun suatu peradaban baru seperti korea selatan dan singapura yang warganya dapat hidup layak dan berdaya saing tinggi, diperlukan suatu skenario besar dalam proses transformasi pendidikan manusianya. dalam skenario ini, manusia tidak lagi dianggap sebagai salah satu unsur dari elemen 5M ( Men,Money.Machine,Materials dan Methods) seperti kita kenal. disini manusia dilihat sebagai suatu elemen istimewa tersendiri yaitu sebagai mahluk tuhan yang memiliki kekuatan otak dengan memori dan RAM yang bergiga-giga powernya, unlimited dan dahsyat. dengan kata lain, otak manusia dapat diasah dan kemudian dibentuk wataknya, agar dapat menjadi manusia yang bersumber daya dua TAK ( ber-Otak dab ber - Watak).

Kita ketahui bahwa korea selatan dan singapura yang menajdi salah satu anggota MEA kini sudah dapat mewujudkan mimpinya hingga mencapai tingkat World Class'. ini bukanlah pekerjaan mudah.Segala daya upaya yang berkaitan dengan pembangunan manusia selalu diutamakan dan disesuaikan dengan visi-misi yang ingin diraihnya.

Linsu Kim, pengarang buku imitation to innovation dan buku sejenis lainnya, menggambarkan bagaimana sebuah mimpi besar telah menjadikan Korea sebagai suatu bangsa yang inovatif dan berdaya saing tinggi. Korea pernah tertinggal oleh beberapa negara maju, termasuk jepang yang menajdi salah satu musuh bebuyutannya.Namun dengan suatu tekad yang bulat dan realistis, Korea berhasil mengejar ketertinggalannya hingga mencapai peringkat World Class. Walaupun diakui bahwa proses pencapaiannya harus melalui suatu fase imitasi. imitasi terhadap suatu hal yang baik, melalui serangkaian proses yang sistematis dan terencana serta menggunakan patok banding terhadap best performer, sering disebut sebagai konsep 'benchmarking'. Dibalik penetapan target-target, ekonomi, indusyrialisasi yang ingin diaraih, tidak banyak yang tahu bahwa aspek pendidikan yang komprehensif sebagai prasyarat keberhasilan dlam pelaksanaannya doselaraskan dengan pentahapan tujuan tersebut.

Dalam kasusu negara singapura Edgar Schein, pakar budaya organisasi dari MIT Amerika Serikat dalma awal pembangunan singapura didatangkannya ke singapura pada awal 1970 an dan di libatkan untuk merancang proses transformasi manusia-manusia singapura yang terdidik secara unggul dan berkarakter yang tangguh. Shcein dalam bukunya "Strategic Pragmatism" mendeskripsikan dengan gamblang bagaimana sulitnya membentuk watak bangsa singapura agara dapat dijadikan sebagai faktor pengungkit (leverage) yang utama dalam meningkatkan daya saing. Bahkan pakar managemen asli singapura, Neo dan Chen penulis buku "Dynamic Governance" mengkonfirmasi tentang pentingnya fondasi budaya dalam mendukung pencapaian visi besar dalam suatu tata kelola kota yang dinamis.

Dalam penjelasan Neo dan Chen, ditegaskan bahwa prasyarat utama dlama proses mewujudkan mimpi besar singapura tersebut harus dimilikinya able people yang cerdas dan berkarakter. memiliki able people ( bukan hanya otak, tetapi watak yang baik) adalah titik awal suatu tata kelola organisasi baik di sektor publik maupun privat. dengan bekal inilah maka manusia-manusia di lingkungan pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, dan masyarakat (QUATRO HELIX) di singapura dengan pola pikir unggul dan bermartabat dapat tercetak. Fokus terhadap pengembangan individu-individu dalam organisasi akhirnya dapat membentuk[ara pemangku kepentingan yang selelau berfikir futuristik (thinking ahead), berfikir lintas fungsi dan sektor (thingking across), berfikir brlajar secara terus menerus (thingking again) sepanjang masa sudah menajdi suatu kebutuhan pokok. Dalam pengelolaan suatu organisasi sikap trengginas dalam bertindak (agile process) merupakan kunci sukses dalam berorganisasi.

Dalam keseharian, sikap budaya menjunjung tingggi efisiensi dan produktivitas yang dibarengi dengan semangat berorientasi pada peningkatan kualita yang terus menerus sangat penting. sikap, budaya, dan semangat ini merupakan modal dasar bangunan daya saing dalam setiap kehidupan berorganisasi. contoh nyata dalam perwujudan hal yang disebut diatas bisa dilihat bagaimana bangsa singapura menjadikan Bandara Changi 1,2,3 menjadi World Class Aviation Hub contoh lain adalah sektor pelabuhan laut singapura mampu bersaing dengan pelabuhan laut terbaik dari Rotterdam Belanda dan menjadi Acuan Dunia. Kesuksesan ini dimulai dari suatu visi (mimpi besar) dan keseriusan dalam proses implementasinya.

Bahkan kini ambisi singapura menjadikan negaranya Knowledge Hub;sudah semakin terlihat dalam proses implementasinya. Kinerja lembaga-lembaga pendidikan dasar seperti Montessouri,NUS dan Nanyang University sudah mulai menggeliat dan menempati peringkat dunia dalam riset maupun kualitas pendidikan.

Makna Pembelajaran (Lessons learnt) dari Korea Selatan & Singapura (anggota MEA)                                                                                                                   

Dari dua contoh inilah maka didapat benang merah makna pembelajaran yang bisa dipetik dari kedua bangsa itu tentang upaya peningkatan ‘peradaban baru’. Banyak hal yang perlu dikaji terlebih dahulu sebagai ‘lessons learnt’ bagi bangsa Indonesia yang mempunyai potensi SDA dan SDM yang luar biasa dan berkeinginan kuat untuk meningkatkan daya saingnya hingga ketingkat dunia. Proses adopsi dan kreasi daya saing asli ala ‘bangsa indonesia’ perlu disesuaikan dengan problematika aktual bangsa Indonesia. Termasuk di dalamnya adalah situasi geografis yang sangat tersebar di sekitar tujuh belas ribu kepulauan yang terbentang dari Mabang sampai Merauke, serta aspek keberagaman sosio-kultural yang cukup kompleks. Itu belum termasuk dengan rencana dan emplementasi penyatuan ekonomi ASEAN yang dimulai di tahun 2015 (Masyarakat Ekonomi Asean). Kesemua ini tentunya merupakan tantangan berat yang harus dihadapi. Jika tata-kelola ini tidak terlaksana dengan baik, dapat dipastikan kita akan kewalahan bersaing dengan bangsa lain.                  

Sekali lagi, contoh dalam proses perwujudan mimpi besar kedua negara tersebut perlu dikaji dan di-benchmarked dalam rencana implementasinya. Kini bisa dijumpai sederetan merek-merek besar di segala industri milik para ‘taipan’ konglomerasi CHAEBOL seperti SAMSUNG, LG, HUNDAY,DAEWOO, K-POP dan masih banyak lagi contoh yang lain. Dibalik cerita sukses tersebut yang sudah pasti adalah adanya keseriusan para pemangku kepentingan QUATRO HELIX (Pemerintah, Akademisi, Pembisnis, dan para pemuka masyarakat) yang berkomitmen untuk dilibatkan dan menyatu dalam membangun sistem pendidikan dari tingkat keluarga, sekolah, dan masyarakat.                                            

Contoh dari tetangga dekat kita, dapat dilihat eksistensi perusahaan konglomerasi seperti Temasek, Singtel, Singapore Airline, bandara Changi, Rumah Sakit Mont Elisabeth. Bahkan di sector pendidikan dasar bisa dilihat sekolah montessouri sudah eksis di Indonesia. Begitu juga dengan Nanyang University, Universal Nasional Singapore (NUS), dan masih banyak cerita sukses lainya yang perlu jadikan patok banding bagi masyarakat Indonesia.                                                                

Sesungguhnya Indonesia yang memiliki,’BONUS BOOMING PENDUDUK’ (jumlah penduduk usia produktif) yang melimpah dan dengan sumber dayaalam yang masih banyak, dapat mewujudkan mimpi sebagai Negara ‘Adidaya’. Namun jika bonus ini tidak dikelola dengan baik (dari segi otak dan wataknya), ini akan jadi boomerang dan benalu malapetaka bagi masyarakat seperti munculnya kelompok-kelompok Geng Motor, Kapak Merah, Geng cabe-cabean dan masih banyak lagi yang lain. Marilah kita tengok statistik kependudukan di masing-masing Negara yang akan tergabung dalam MEA, bagaimana kondisi sisi ‘Demand dan supply’ baik secara kuantitatif maupun kualitatif (mutu sumber daya manusia seutuhnya) akan berpengaruh pada capaian pendapatan perkapita masyakatnya seperti table berikut ini.   

Pergeseran ‘Platform’ Daya Saing Bangsa                                                                                

Di era peradaban baru ini, tatanan ekonomi dan industry sudah berubah dari era ‘Industrial Ekonomy’ bergeser ke ‘knowledge based economy’. Tatanan masyarakat yang barupun juga mengalami pergeseran kearah ‘knowledge based society’. Dengan adanya kemajuan di bidang ICT, jarak tidak lagi menjadi penghalang. Tatanan sosialpun sudah berubah menjadi ‘tanpa batas’ dan ‘Interconected’. Sebagai konsekuensi dari orientasi baru tersebut, bidang kependidikan juga perlu di selaraskan terhadap dengan perkembangan IPTEK dengan tidak mengesampingkan nilai luhur dan jadi diri bangsanya. Membangun pendidikan yang berkualitas untuk mewujudkan daya saing bangsa dalm multi sector pembangunan merupakan suatu kebutuhan Yng mutlak. Tata kelola dalam proses penyelengaraan pendidikan mulai dari proses ‘knowledge exploration, knowledge creation, dan knowledge dissemination’ perlu dikaji ulang agar pengembangan bidang kependidikan selalu diselaraskan dengan konteks perkembangan POLEKSOSBUDTEK. Tantangan bangsa Indonesia ke depan sebagai bangsa yang ekonominya ‘terbuka lebar’ menjunjung tingggi aspek-aspek multi-kulturalisme yang demokratis, di bahas secara serius di dalam konvensi Pendididkan yang digagas oleh PGRI ini. Sayangnya bangsa Indonesia untuk sementara waktu tidak memiliki GBHN (Garis Besar Haluan Negara) sehingga ‘attachement’ pembangunan manusia sulit di kaitkan dengan ‘Road-Map’ daya saing daerah maupun daya saing nasionalnya. Diharapkan pada pemerintah baru yang akan di tentukan tahun 2014 ini dapat memikirkan ‘platform’ pendidikan baru yang sejalan dengan scenario baru dya saing yang ingin ditetapkan.                                        

Perbaikan dalam upaya suatu rekonstruksi tatanan kependidikan di masa yang akan datang perlu ‘adjusment’ antara konten (content), konteks, dan proses serta sistem pendukung yang berkaitan dengan pengelolaan aggaran, tenaga kependidikan, infrastruktur kependidikan fisik maupun non fisik, kelitbangan dan aspek lainyang terkait dengan pembangunan manusia seharusnya di arahkan pada sasaran jangaka menengah dan panjang yang hendak di capai oleh suatu bangsa. Pengembangan suatu scenario strategi jangka panjang yang terencana dan terintegrasi mutlak harus dibuat secara nasional visioner serta membanggakan. Pengkaitan pada tujuan jangka panjang seperti dijaman pemerintahan Orde Baru seperti visi kedirgantaraan yang dipimpin oleh Menristek B.J. Habibie untuk tahap awal bekerja sama dengan spanyol dalam membuat pesawat CN235 (Casa-Nurtanio), kemuadian membuat sendiri dengan seri N250 dan akhirnya menjadi N2130 walaupun masih belum berhasil namun upaya mulia tersebut perlu ditiru. Untuk kemandirian pangan dan industry lainya, pemerintah daerah perlu di dorong dan di-‘empowered’ yang tentunya disesuaikan program ‘One Vilage One Product’ ataupun konsep SAKASAKTI (Satu Kabupaten Satu Kompetensi Inti) sesuai nafas undang-undang no 22 dengan revisinya di undang-undang no. 32 tahun 2002  yang pada dasarnya kewenangan untuk mengelola wilayah secara ‘bertanggung jawab’ diserahkan pada tingkat kabupaten dan kota. Contoh kongkret program seperti ‘Sejuta Sapi’ yang digagas pemprov NTB, Lumbung jagung ‘gorontalo’, industry kreatif cimahi dan masih banyak lagi yang lain.                                                                          

Oleh karenanya segala daya dan dana yang terkait dengan ‘penyeragaman’ dan standardisasi hasil yang optimal seperti penerapan Ujian Nasional yang bertujuan sangat mulia akan sia-sia apabila masalah ketimpangan mutu guru, sistem pendukung lainya (termasuk sistem insentif, upgrading, & updating para guru) tidak dipikirkan secara mendalam.                                                                                                           

Setiap daerah memiliki SDA yang spesifik serta kearifan local yang berbeda, oleh karena itu ‘involment’ terhadap para pemangku kepentingan QUATRO HELIX merupakan pengungkit utama agar sinkronisasi pendidikan tripusat dapat selaras dan sejalan guna mendukung bangunan daya saing seperti yang tergambar sebagai berikut.                           

Pembangunan Watak ‘budaya kerja keras’, berdisiplin tinggi, serta pantang menyerah menjadi prasyarat utama dalam pembentukan daya saing. Dalam suatu konstruksi pembangunan Daya Saing, kesemua hal yang disebut diatas sebenarnya pernah di jalankan di Indonesia di zaman era Orde Lama maupun Orde Baru sehingga Indonesia pernah mengalami kemandirian bidang pangan dan energy minyak, sehingga Indonesia pernah menjadi anggota maupun pemimpin OPEK (Organisasi Pengekspor Minyak) di kala itu.                                                                                       

Dalam bidang politik bangsa Indonesia pernah disegani dunia karena sikap politik Non-Blok dan ‘Bebas Aktif’. Kebanggaan akan kepemilikan kedaulatan ‘POLEKSOSBUD’ di masa lalu perlu di ulangi lag, agar ‘dignity’ bangsa Indonesia dapat ditimbulkan lagi. Kebangkitan kembali semangat juang untuk menuju suatu bangsa yang disegani dan berdaya saing tinggi perlu direkonstruksi.                                     

Berbagai kegiatan pendidikan yang bisa menjangakau ke seluruh pelosok wilayah Indonesia supaya bisa mendukung kemandirian energy, pangan, ekonomi, dan industry di setiap kabupaten dan kota secara mutlak harus diwujudkan. Hal pertama yang harus dilakukan adalah perekrutan tenaga didik yang bermutu, dilatih dengan sistem yang sinkron antara kemampuan otak dan wataknya serta dilengkapi dengan sistem pendukung yang baik, maka niscaya daya saing daerah maupun bangsa bisa terwujud                                             

Berbagai bentuk kegiatan tempo dulu yang pernah di rasakan di masyarakat sebagai pelengkap pendidikan di persekolahan dan keluarga, seperti pendididkan dan latihan bela diri pencak silat, Kepanduan (Pramuka), Kojarsena, P4, Klompencapir, Posyandu, Menwa/Walawa (Resimen Mahasiswa/ Wajib Latihan Mahasiswa), CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), Siskamling dan masih banyak lagi yang lain. Upaya yang pernah dilakukan ini tentunya sesuatu yang perlu direningkan kembali dan perlu rekonstruksi agar bisa diformat ulang sesuai perkembangan zaman dan perlu diselaraskan dengan program kependidikan yang telah di tetapkan pemerintah. Dengan sentuhan kurikulum dan tata-kelola yang baik di bangku sekolah yang diselaraskan dengan pendidikan budi pekerti baik disekaolah, keluarga, dan , masyarakat serata melibatkan para pemangku kepentingan QUATRO HELIX, maka diharapkan daya saing bangsa Indonesia yang sudah memiliki modal dasar SDA yang melimpah disertai dengan kepemilikan jumlah penduduk yang pada usia produktif yang besar sehingga proses tranformasi MSD di Indonesia dapat diwujudkan.

Skenario Baru Indonesia: Perangi Kebodohan & Kemiskinan, Tingkatkan Dayasaing          

Tidak aka ada yang menyangkal bahwa suatu sistem pendidikan dengan ruh (content) yang baik, disertai arah yang dengan proses pentahapan yang jelas, dengan dukungan manajemen yang prima tentu akan menghasilkan luaran (output dan outcome) peserta didik yang unggul yang diharapkan dapat memerangi kebodohan apabila terstandardisasi secara ‘adil’ dan merata. Basis kependidikan untuk semua anak bangsa, ‘Wajib Belajar 9-12 tahun’ (Education for all) tidak akan berarti apabila standardisasi mutu guru dan fasilitas penunjang sangat timpang. Hal ini disebabkan variasi sistem intensif dan distribusi yang tersebar diseluruh penjuru yang membentang dari barat ke timur meliputi wilayah-wilayah kepulauan yang berjumlah lebih dari 17.000. Isu teerberat dalam aspek tata-kelolanya adalah tentang apakah lebih baik pengelolaanya secara sentralistik berklaster masih menjadi perdebatan yang belum terjawabkan secara tuntas.                                                                                   

Yang jelas, seandainya berbagai masalah-masalah diatas belum terjawab, maka masih sangat jauh jika aspek sumber daya manusia yang diharapkan sebagai penopang daya saing bangsa. Karena secar generic, masalah daya saing yang berkaitan dengan aspek manusianya selalu sikap mental dan budaya yang berorientasi pada aspek Efisiensi dan Produktifitas, Kualitas, Fleksibilitas, serta Inovasi. Implikasi atas prasyarat maka penataan pendidikan yang baik dari tingkat dasar hingga jenjang pendidikan tinggi harus serempak. Sudahkah kita melakukan apa yang menjadi catatatan seperti masalah-masalah di atas?                                                                     

Secara umum, program pemerintah dalam penerapan KURIKULUM 2013 termasuk sistem pendidikan jarak jauh seperti yang dilakukan oleh UNIVERSITAS TERBUKA yang ‘reformatif’ perlu dicermati kembali akan ‘content, conteks, process, & support system’-nya. Reformasi pendidikan yang mengacu pada 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan meliputi standardisasi Tata Kelola, Biaya, Sarana dan Prasarana, Pendidik dan tenaga Kependidikan, isi, proses, penilaian dan kompetensi lulusan sebagai output yang terukur sudah di tetapkan.


Share this:

Komentar Anda

Jadilah yang pertama dalam memberi komentar pada berita / artikel ini
Silahkan Login atau Daftar untuk mengirim komentar
Disclaimer

Member Menu

Tentang Kami

Tiada kata yang pantas diucapkan, selain ungkapan syukur "alhamdulilahi robbil'alamin" akhirnya website ini dapat terselesaikan, adapun tujuan penulisan website ini ... Lihat selengkapnya
  • Alamat Kami:
    Cibinong
  • 085210254902 (Telkomsel ) 087874236215 (XL)
  • info@konsultanpajakrahayu.com
Developed by Naevaweb.com